Wednesday, December 19, 2007

Semburat Jingga di Langit Senja


Coba lihat langitnya! Bagus banget ya! Sigh, ini nih gambaran langit yang saya suka, langit dengan semburat warna jingga. Gambar ini hasil jepretan Eno, teman baik saya yang manis.
Makasih, Eno... :)

Selingkuh karena Nggak Puas

Oh ouw, kamu ketahuan pacaran lagi, dengan dirinya, teman baikku…
Sekarang selingkuh jadi tren (lagi), ya? Beberapa kali saya mampir ke pusat perbelanjaan, saya dengar lagu-lagu yang diputar di sana—meskipun artisnya beda—mengusung “selingkuh” sebagai tema utama. Ada sih beberapa lagu yang masih enak nyantel di telinga, tapi banyak juga yang lirik dan musiknya payah.

Selingkuh. Sejak jamannya King Arthur, selingkuh sudah berjaya. Lancelot, yang kalau di film selalu ditampilkan sebagai karakter keren berwajah tampan, selingkuh dengan Guinevere, istri Arthur. Kasihan Arthur.

Selingkuh juga berhasil nyetanin banyak manusia abad 21. Ah, nggak usah jauh-jauh, di dekat kita juga banyak contoh kasusnya. Selingkuh malah sudah jadi gaya hidup, dan (sepertinya) posisinya makin dianggap sah.

Kenapa sih mesti selingkuh? Nggak puas sama pasangan, ya?

I’d tell you my secret if you tell me yours, kata dr. Shepherd pada dr. Burke, di ruang operasi.
Okay, kata dr. Burke.
I met Meredith in Joe’s bar. I drunk, she drunk, I took advantage on her, she took advantage on me. It was my first night here in Seattle. My wife slept with my best friend, my life screwed, and I saw her as my initiation here, kata Shepherd.
I see, kata Burke.
Now, tell me your secret, tagih Shepherd.
I have no secret, that’s my secret, kata Burke.
Haha!

Kita lihat kasus dr. Shepherd. Istrinya Addison, sama-sama dokter bedah, selingkuh dengan teman dekatnya. Alasan sang istri, suaminya terlalu sibuk dengan pekerjaannya, selalu sibuk di ruang operasi. Dia butuh perhatian, dan dia mendapatkannya dari Mark, sahabat Shepherd.

Satu alasan mengapa orang selingkuh: nggak puas dengan pasangan.

Shepherd akhirnya pindah dari Manhattan ke Seattle, dan bertemu Meredith. Mereka pacaran. Meredith nggak tau kalau Shepherd sudah menikah, sampai akhirnya Addison muncul sendiri di hadapan mereka berdua.

Okay, what would you do to Shepherd if you were Meredith? Kalau saya, mungkin bakal ngegampar si Shepherd lantaran sakit hati. Tapi kalau saya betul-betul berada di posisi perempuan itu, saya mungkin bakal terbengong-bengong kaget, dan yang pasti sedih sekali, sampai-sampa nggak ingat untuk menampar si brengsek itu. Sigh, terlanjur cinta sama Shepherd.

Meredith akhirnya memberi penawaran pada Shepherd, pilih Addison atau dia. Shepherd nggak tega untuk menandatangani surat cerai dengan Addison, dan memilih untuk meninggalkan Meredith. She’s my wife, begitu alasan Shepherd. Biarpun istrinya sudah pernah mengkhianatinya, dokter itu memilih untuk mempertahankan istrinya, keluarganya, ketimbang pacarnya.

Satu alasan untuk tidak selingkuh dengan istri atau suami orang: mereka pasti akan memilih keluarganya, atau pasangan sahnya, daripada pacarnya. Lihat, rugi kan selingkuh sama pasangan orang?

Shepherd dan Addison serumah lagi, baikan lagi. Meredith merana sendiri, jadi bahan gunjingan orang-orang di lingkungan kerjanya. Kasihan Meredith.

Saat Meredith berusaha melanjutkan hidupnya, kencan dengan pria lain, gantian Shepherd yang cemburu. Hidih, apa sih maunya laki-laki ini?

Di sebuah pesta, Meredith datang berpasangan dengan seorang dokter hewan yang ganteng, jelas-jelas baik dan jujur di awal kalau dia single. Hiya, Shepherd yang datang berpasangan dengan Addison malah nggak bisa melepas pandangan dari Meredith.

Perempuan yang lebih muda memang kelihatan lebih bersinar mungkin, ya? Akhirnya di pesta itu, Shepherd malah ngikutin ke mana Meredith pergi. Dan akhirnya pengin mereka kembali berdua. Ugh, dasar plin-plan.

Alasan Shepherd untuk (gantian) selingkuh dari istrinya: tidak puas dengan pasangannya. Jadi sebenarnya, menurut saya, ketidakpuasan terhadap pasangan menjadi alasan bagi seseorang untuk selingkuh.

Bagaimana kelanjutan kisah cinta Meredith Grey dan Derek Shepherd? Kita tunggu saja di Grey’s Anatomy season ke-3. Saya baru nonton sampai akhir season 2. Tiap saya nonton serial ini, saya berdoa, semoga muncul tokoh pria baru yang gantengnya, pintarnya, dan baiknya pol untuk bersanding dengan Meredith. Haha! Eits, tapi ini nggak berarti saya nggak suka dengan karakter Shepherd ya.

Catatan singkat: Saya nggak mau menulis masalah selingkuh lebih dalam lagi, ah. Menurut saya, cuma orang bodoh yang mau pacaran dengan pasangan orang, atau jadi selingkuhan.

Monday, December 17, 2007

Sejarah Indonesia

Sabtu (15/12) kemarin, saya naik Patas AC No. 57 jurusan Ciputat-Gajah Mada. Saya duduk di samping seorang cewek yang lagi asyik membaca berlembar-lembar kertas fotokopian. Bukannya sengaja pengin ngintip, tapi posisi duduk yang mepet banget memaksa mata saya untuk plirak-plirik isi lembaran tersebut.

Sejarah Nasional Indonesia
, begitu judul yang tercetak di lembaran kertas paling atas. Di bawahnya, ada soal-soal sejarah, bentuknya pilihan ganda. Ihk, saya jadi ingat jaman sekolah dulu.

Penjajahan terhadap masyarakat Jawa yang dilakukan oleh Belanda merupakan titik-titik. Dari empat pilihan A, B, C, dan D; jawaban yang betul menurut kunci jawabannya adalah A, bentuk dehumanisasi masyarat Jawa.

Pemerintah Indonesia mendirikan Orde Baru sebagai bentuk titik-titik. Dari empat pilihan A, B, C, dan D; jawaban yang betul adalah D, Demokrasi Pancasila.

Dalam hati saya, "Emangnya pelajaran kaya gini masih kepake, ya? Cewek ini guru atau mahasiswa ya? Tapi, masa iya soal-soal seperti itu masih ditanyakan dan dipelajari?"

Sekarang, saya mau bicara (dalam tulisan, tentu saja) soal pelajaran sejarah. Pelajaran Sejarah termasuk pelajaran favorit saya. Dari situ saya bisa sedikit tau tentang sejarah dan budaya negara di belahan bumi yang lain. Tapi, begitu bab sejarah yang dipelajari masuk ke sejarah Indonesia, nafsu belajar saya mulai menipis. Menurut saya, kurikulum di jaman saya dulu--mbuh seperti apa kurikulum saat ini--memaksa saya untuk menghafal tempat, waktu, dan kejadian saja.

Kapan Perang Diponegoro terjadi? Kapan Konferensi Meja Bundar digelar? Kapan Jenderal Sudirman meninggal dunia? Di mana Soekarno lahir dan dimakamkan? Cuma itu...

Bukankah ada pesan lain yang lebih penting ketimbang tanggal-tanggal tersebut? Kenapa para pahlawan itu berjuang? Apa sih yang sebenarnya mereka perjuangkan? Wah, saya nggak heran deh kalau nggak banyak orang Indonesia yang punya rasa nasionalisme tinggi.

Oiya, FYI, saya nggak tega banget mendengar kisah tentang pemberontakan G30S/PKI. Lagian, hari gini kok masih ada yang bicara Orde Baru sebagai perwujudan Demokrasi Pancasila? Sejarahnya saja belum lurus... :p

Soal pikiran ini, tentu saja nggak saya bagi sama cewek yang duduk di samping saya.

Friday, December 14, 2007

Persepolis

Sejak pertama baca novel grafis buatannya yang berjudul "Embroideries" (sudah dialihbahasakan ke Bahasan Indonesia), saya sudah suka dengan perempuan ini, penulis asal Iran bernama Marjane Satrapi. Akhirnya, setelah pencarian yang lumayan lama, saya dapat juga novel grafis "The Complete Persepolis" buatan Satrapi, terbitan Pantheon (versi Bahasa Inggris). Film animasinya malah diputar sebagai film pembuka di Jiffest tahun ini. Saya penasaran sih dengan filmnya, tapi kok saya nggak terlalu antusias untuk nonton Jiffest kali ini ya.

Membaca novel grafis ini, pembaca bisa tau jalan pikiran Marji (nama panggilan Marjane). Dia sengaja menulis "Persepolis" supaya orang-orang tau seperti apa sih situasi di Iran, apa pendapat miring orang-orang tentang tanah kelahirannya itu sepenuhnya benar? Orang-orang kan hanya melihat dan mendengar tentang Iran dari TV. Mereka nggak tau seperti apa sebenarnya revolusi yang terjadi di sana, sampai akhirnya negara tradisional itu jadi negara religius Islam. Di sini, kisah mengenai kondisi dan revolusi Iran diceritakan Marji dengan gaya bahasa ringan dan lucu, sebagai penghias kisah hidupnya dan keluarganya, mulai dari masa kecil sampai akhirnya dia hijrah ke Perancis.

Yang menarik jelas cara penyampaian kisahnya, dalam bentuk komik. Sebenarnya saya juga masih bingung, apa sih beda novel grafis dengan komik? Hihi, sepertinya sama saja deh. Atau mungkin beda keduanya terletak pada bobot ceritanya ya? Kalau pengin tau alasan Marji membuat "Persepolis", Anda bisa masuk ke sini.