
Saya lupa kapan tepatnya saya mulai jatuh cinta dengan produk-produk berlogo apel. Yang pasti, bagi saya, Apple adalah salah satu kiblat
hardware yang wajib untuk dilirik.
Maaf, saya bukan duta Apple yang pengin berpromosi. Saya hanya ingin berbagi pendapat atas dasar pengalaman saya mencicipi beberapa produk keluaran Apple—MacBook, iPod, dan iPhone (untuk yang ini, waktu cicipnya benar-benar singkat karena boleh pinjam dari teman).
***
Ditilik dari sisi desain, perangkat-perangkat besutan Apple jelas “tidak biasa”. Tanpa ragu, saya menunjuk New iMac, MacBook, iPod, dan ponsel “
hot” iPhone sebagai bukti. Mereka bikin orang bermimpi untuk memilikinya.
Keindahan desain Apple tak berhenti di sisi
hardware.
Software ciptaan mereka pun punya wajah indah.
Software yang ada dalam iPhone, contohnya, juga Mac OS X paling gres, Leopard. Apa mereka bisa dibilang “biasa”? Tidak, menurut saya.
Saya pernah duduk di
foodcourt sebuah mal besar di bilangan selatan Jakarta. Lagi asyik berbincang dengan beberapa teman, lewatlah seorang perempuan bertubuh gemuk dengan baju terusan bergaya simpel yang panjangnya 5cm di atas lutut. Hak sepatunya tinggi. Di pinggangnya, melilit sabuk yang superbesar.
Bukan sabuk itu yang menarik perhatian saya, melainkan apa yang menggantung di sana. Sebuah iPhone, telanjang tanpa sarung. Penuh
pede, si perempuan berlenggang tenang, dengan wajah sedikit diangkat.
Pemandangan seperti itu tidak bakal ada di pasar, pikir saya. Dan entah mengapa, saya merasa yakin bahwa yang bikin si perempuan berlenggang
pede adalah iPhone yang menggantung di pinggangnya itu.
Lihat, kan? Menurut saya, barang bagus berdesain bagus mampu mendongkrak rasa
pede orang, dan, tanpa bisa dijelaskan, mampu menarik perhatian orang secara emosional. Salut untuk para desainernya!
***
Beberapa pekan lalu, CEO Apple Steve Jobs mengumumkan bakal melengkapi iPhone dengan fitur bisnis—sebagai awalnya adalah fitur
push mail dan
remote calendar management—untuk bersaing dengan BlackBerry.
Banyak yang berpendapat, ikon teknologi itu bakal mampu menciptakan bisnis yang lebih
user-friendly. Beberapa kalangan juga mempertanyakan masalah kompatibilitas iPhone terhadap berbagai aplikasi bisnis. Pasalnya, pengumuman tersebut mengundang keinginan banyak korporat untuk menggunakan iPhone sebagai penunjang bisnis mereka.
Wah, sekarang saja—dengan fitur telefoni dan
software khas Apple—iPhone sudah digemari dan laku dijual, apalagi jika fitur bisnis sudah ditanam di dalamnya? Mungkin nanti, pemandangan iPhone telanjang menggantung di pinggang orang tak lagi jadi hal yang menarik perhatian.
***
Sekarang, jargon 2.0 lagi “
in” di dunia teknologi. Dimulai dari Web 2.0 yang dipilari konsep
social networking, kini banyak industri disebut-sebut mulai berevolusi dan masuk ke dunia 2.0.
Istilah Web 2.0 digagas dengan merujuk ke situs-situs jejaring sosial macam FaceBook, YouTube, dan MySpace. Dan industri musik memperkenalkan istilah Music 2.0 begitu MySpace mengumumkan bakal membuka toko musik
online berjuluk MySpace Music—bersaing dengan iTunes Music Store milik Apple. Andalan bisnis Music 2.0 adalah
social networking,
e-commerce, dan
music discovery.
Dunia
gaming juga sudah mulai keluar dari konsep bisnis tradisional. Kini, para pengembang
game bekerja sama dengan industri film dan penerbitan buku dan komik demi mengembangkan cerita dan meningkatkan promosi produknya. Nantinya, mungkin, konsep ini bakal disebut sebagai
Gaming 2.0—siapa tahu?Sekarang, kembali ke Apple.
In my humble opinion, jika iPhone ingin tampil dengan dukungan bisnis, Apple harus membuka
platform-nya untuk mengatasi masalah kompatibilitas terhadap beragam aplikasi bisnis. Ini tentu akan mendorong banyak
software developer untuk mengembangkan aplikasi bisnis yang pas dengan iPhone. Merujuk ke situ, plus melihat kecanggihan desain dan
hardware yang ditawarkan Apple, kira-kira, bisa tidak ya jika saya menyebut Apple sebagai kiblat Hardware 2.0?
Gambar diambil dari: iphonic.tv