Sunday, November 01, 2009

Penyakitnya Cuma Mampir


Sabtu (31/10) kemarin, saya dan beberapa kawan pergi mengunjungi RS Kanker Dharmais. Di sana, kami bikin acara nonton bareng anak-anak yang dirawat di sana. Film yang kami pilih adalah Garuda di Dadaku. Terus terang, itu adalah kali pertama saya mengunjungi RS tersebut.

Bagaimana perasaan saya? Terharu pastinya, melihat mereka punya semangat juang yang tinggi, meskipun penyakit jahat menggerogoti tubuh mereka. Dari seorang kawan yang adiknya dirawat di sana, saya tahu bahwa kebanyakan anak yang kami temui kemarin menderita kanker darah alias leukimia. Tapi, ada juga yang menderita kanker tulang, kanker mata, dan kanker usus. Ada beberapa yang fisiknya memang terlihat lemah, ada pula yang terlihat sehat dan aktif bergerak dengan lincahnya. Di sana, saya bertemu Faqih, Teguh, Nigel, Nadia, Faila, Akmal, Rahmat, Valentinus, Gading, Rangga, dan beberapa kawan cilik lainnya.

Karena fisik mereka lemah--sebagian malah terlihat lemas karena baru menjalani kemoterapi--kami cuma punya waktu 3 jam untuk bermain bersama mereka. Ada beberapa hal yang baru saya tahu tentang mereka, anak-anak penderita kanker. Mereka takut mendengar kata "kemoterapi". Kata ibu salah satu pasien, setiap kali efek menjalani kemo, Widan (anaknya) selalu rewel dan mual-mual.

Faila, salah satu pasien di sana terlihat sehat dan superlincah. Bicaranya juga lantang. Waktu ditanya, apa dia sering ke rumah sakit, dia menjawab, "Sering. Kalau ke rumah sakit biasanya dua hari."

"Memangnya Faila sakit apa?" tanya salah satu kawan. "Gak kok. Sakitnya cuma mampir," jawabnya dengan senyum dan mata berbinar. Ternyata, Faila ini menderita kanker darah. Sakitnya cuma mampir, kata dia. Dan dia masih bisa tertawa. Waduh, saya jadi malu juga karena masih suka mengeluh. Kaki lecet gara-gara sepatu baru saja, mengeluh. Malu deh sama malaikat-malaikat kecil ini.

Teman-teman, seperti kata Faila, penyakit yang kalian derita cuma mampir. Kalian harus bertahan dan berjuang melawannya ya. Sampai jumpa lagi, little angels! :)

Kuliner Singkat di Bandung

Kamis (29/10) lalu, saya dan tiga "famili" dari klub kuliner pergi ke Bandung. Misinya untuk berwisata kuliner. Dari Bekasi, saya, Maya, Ria, dan Mas Dan berangkat ke Bandung. Sayang ada dua anggota klub yang nggak bisa ikut, Iko dan Bang Budi.

Berangkat pukul 09.00, kami tiba di Bandung pukul 11.30. Perjalanannya lancar. Tujuan pertama adalah Resto Ikan Bakar Pak Chi Met. Lokasinya di Jl. Sukajadi No. 157, Bandung. Menu yang kami pesan adalah ikan gurame bakar, ikan bawal bakar, karedok, tahu goreng, dan sayur asam. Rasanya? Enak banget! Haduh sayang, saya nggak bisa mendeskripsikan rasanya, bumbu-bumbu apa saja yang teracik dalam makanan-makanan itu. Yang pasti enak banget... :">

Suasana restonya juga tenang. Maklum, kami datang sebelum jam makan siang dan di hari kerja. Soal harga standar lah. Kalau nggak salah untuk semua makanan yang kami pesan--termasuk minuman-minumannya--nggak sampai Rp200 ribu. FYI, resto ikan bakar ini ternyata sudah punya banyak cabang. Infonya googling sendiri ya... :p

Habis makan, kami mampir ke Rumah Mode. Nggak ada yang menarik di sini, kecuali saya dan Ria beli topi yang lucu... d;

Acara berikutnya adalah menjajal es durian Pak Aip (Sakinah) yang (konon) terkenal. Lokasinya di Jl. Tubagus Ismail Raya No.5. Bagaimana rasa es duriannya? Menurut saya sih biasa saja. Masalahnya, daging duriannya nggak tebal. Pun buahnya kurang segar. Saya dapat beberapa yang buahnya sudah agak kering.

Kalau ada di antara teman-teman yang kepengin bikin es durian sendiri, caranya gampang banget. Masukkan buahnya ke dalam mangkuk, lalu campur dengan es dan susu kental manis putih. Kalau mau rasa coklat juga nggak dilarang. Hehe, saya pikir susu kental manis ini bisa juga dipakai untuk ngakalin supaya durian yang nggak manis bisa jadi terasa manis. FYI, harga semangkuk es durian Rp14 ribu. Selain es durian, ada juga es buah. Harganya Rp7.000.

Destinasi berikutnya cuci mata di Jl. Riau, gudang factory outlet di Bandung. Saya nggak terlalu menikmati jalan-jalan di FO ya. Apalagi di saat beberapa hari sebelumnya saya sudah ngeluarin cukup banyak untuk belanja. Jadi, nggak ada yang asyik untuk diceritakan di sini.

Dari Jl. Riau, kami menuju Prima Rasa untuk untuk mencari oleh-oleh. Alamatnya di Jl. Kemuning No. 20. Duh, usaha untuk mencari tempat ini lumayan berat. Beberapa kali nanya orang di jalan, dan salah. Tapi akhirnya ketemu juga. Ternyata, brownies Prima Rasa ini rasanya jauh lebih enak ketimbang brownies merek lain (menurut penilaian lidah saya)! Saya nyesel cuma beli 1... :p

Sore harinya, rombongan kami menuju Jl. Veteran No. 25, tempatnya batagor Kingsley. Sialnya, ternyata Kingsley tutup setiap Kamis. Batal deh makan mie ayam dan beli oleh-oleh batagor di sana. Karena lapar, dan masih pengin makan mie, akhirnya Mas Dan berinisiatif mengajak "adik-adiknya" untuk makan yamin di Wale (Warung Lela). Tempatnya agak jauh, naik, di Jl. Kupa No. 6, Kompleks Rancakendal. Menu spesial di Wale adalah yamin. Ada yang manis, ada yang asin. Selain yamin, ada juga bakso, somay, dan bakso tahu. Enak juga... :p

Pemandangan di sekitar Wale saya yakin bagus banget. Sayangnya, kami tiba sewaktu sudah gelap. Jadi nggak ada pemandangan bagus yang bisa dijepret. Karena sudah malam, perjalanan keliling Bandung pun harus berakhir. Sayang juga, karena masih ada banyak tempat makan enak di sana. Kapan-kapan deh ke sana lagi. :)

Saturday, October 17, 2009

X Diary


"We decided to stay friends."

Why did they break up?
What was their reason for wanting to stay friends?
Could it really be an impaired friendship?
Are they alright now?
What if one of them meets someone new?
Could they easily drop their habits from when they were lovers?
Maybe, in fact, they went back into 'lover mode' furtively and steathily?
(Toma, X Diary)

Waktu mampir ke toko buku Kinokuniya di KLCC Suria, Selasa (6/10) lalu, saya nemu buku komik imut ini. Judulnya X Diary. What's so special about this book? Alur ceritanya nggak biasa. Gambarnya sederhana, simpel tapi bagus. Ceritanya disajikan dalam bentuk komik strip full color. Setiap strip menggambarkan adegan singkat, tapi runut dengan ceritanya.

Saya cek, ternyata komik ini adalah komik Korea. saya belum pernah membaca komik Korea sebelumnya. Penasaran dengan gaya komikus Korea, saya beli buku ini meskipun harganya agak mahal, RM61.35 atau sekitar Rp180.000. Buku yang saya beli ini tinggal satu-satunya di toko buku itu. Mereka nggak punya stok X Diary yang masih kinclong. Jadi, biarpun kavernya agak lecek dan ada halamannya yang terlipat, saya mantap untuk membeli komik ini.

Dua tokoh utama dalam X Diary adalah Mingo dan Jerry. Mingo adalah perempuan temperamental berusia 26 tahun yang berprofesi sebagai kartunis. Jerry adalah mantan pacar Mingo, bassist di sebuah rock band. Beda dengan Mingo, Jerry kalem dan easygoing. Meski sudah putus, mereka tetap bersahabat. Sebenarnya, mereka masih punya feeling satu sama lain, tapi gengsi untuk mengakuinya.

Kisah pertemanan dua orang ini menampilkan beberapa karakter lain. Ada Sam, adik perempuan Mingo. Sam adalah musisi yang setia di jalur punk. Dulu dia satu band dengan Jerry, sebelum akhirnya Jerry pindah ke jalur musik rock. Sam belum pernah pacaran. Banyak orang bilang, dia picky. Nggak ada yang tahu bahwa satu-satunya pria yang pernah ditaksir oleh Sam adalah Jerry, mantan pacar kakaknya sendiri.

Karakter lain adalah Jinjin, anak buah Mingo. Karakter Jinjin ini lumayan antik. Dia naif dan percaya kalau cinta sejati bisa digapai dengan usaha superkeras. Di buku ini, Jinjin bakal bertemu dan pergi kencan dengan rekan satu band Jerry yang cantik.

Bagaimana ending kisah cinta Jerry dan Mingo? Well, pada akhirnya mereka pun nggak nyambung. Tapi, suguhan cerita dan gambar-gambar yang dibuat oleh Toma, si komikus, tetap menghibur hati. Banyak juga adegan yang bikin ketawa. Kalau kesulitan mencari buku ini, teman-teman bisa mampir ke www.netcomics.com untuk membaca versi onlinenya.

Gambar diambil dari sini.

Monday, September 28, 2009

Mati Ide? Ah, Nggak Juga!

Saya punya teman yang pintar banget berpuisi. Dia selalu bisa merangkai kata dan memilih kata-kata yang berima. Meski saya nggak suka puisi, saya akui saya kagum sama teman saya itu. Dia seperti nggak pernah kehabisan kata-kata puitis.

Saya penikmat komik. Buktinya, lebih banyak komik terpajang di lemari buku saya—bukan novel, apalagi buku ‘pintar’ tentang manajemen atau buku ‘berat’ soal pengembangan diri. Saya kagum dengan para komikus yang bisa ‘menghidupkan’ karakter 2D di lembaran-lembaran kertas. Saya pikir, beruntung banget orang-orang yang diberi kemampuan untuk menggambar.

Saya juga kagum sama orang-orang kreatif yang jago bikin film, cerdas membuat skrip film, yang bisa membuat animasi, yang pintar mendesain, yang bisa bikin aransemen musik, atau yang bisa memahat patung. Singkatnya, saya kagum sama orang-orang kreatif.

Kalau diperhatikan, sebenarnya kreativitas nggak hanya bisa ditemukan dalam puisi, gambar komik, film dan animasi, atau desain suatu produk. Cara orang berbisnis juga perlu kreativitas. Ehm, penulis juga (seharusnya) masuk dalam kategori pekerja kreatif. Bahkan (menurut saya) seorang penulis blog sekalipun. Tiap orang yang nggak punya bakat musik atau seni, pasti punya cerita untuk dibagi pada teman-temannya. Cerita itu kan bisa jadi bahan tulisan.

Sudah lama banget saya nggak bikin coretan di blog ini. Saya sempat bilang ke rekan saya, “Saya mati ide untuk menulis blog.” Dia bilang, “Masa sih, Jeng?” Setelah saya pikir-pikir lagi, “Iya, masa iya saya nggak punya apapun untuk ditulis di blog ini?”

Untuk para blogger (alias tukang curhat) yang merasa lagi mati ide untuk menulis, ini tips dari saya: look at your life for a moment. Apa ada saat di mana kamu merasa takut atau stress, saat di mana kamu mengalami hal lucu atau mungkin jatuh suka pada seseorang? Punya teman yang menyebalkan di kantor? Baru mengalami liburan yang menyenangkan, baru menghadiri pesta yang asyik? Semua itu bisa jadi bahan cerita dan tulisan. Jadi, jangan bilang kalau kita nggak bisa kreatif. Kalau lagi merasa tumpul dan kehabisan ide, ingat: nggak ada orang yang nggak kreatif, dan kreativitas bisa diasah.

Siapa yang lagi mati ide? Ah, itu kan cuma perasaan situ aja! Ngomong-ngomong, jangan lupa baca Majalah CHIP edisi bulan Oktober 2009 ya. Di edisi itu, saya menulis tentang industri animasi di Tanah Air.

Gambar diambil dari sini.

Friday, July 24, 2009

Yang Beruntung dan Kurang Beruntung

Ada nggak sih kriteria untuk mengukur tingkat keberuntungan seseorang? Apa dari wajahnya yang cantik atau tampan, dari seberapa sering dia menang undian berhadiah, dari seberapa sukses kariernya, dari seberapa indah suaranya, atau dari mana?

Sobat saya punya wajah yang tampan. Dia juga pintar dan nggak katro, nyambung diajak ngobrol. Karena itu, banyak perempuan termehek-mehek pada dia. Tapi--semoga cuma saya yang memperhatikan--dia agak kurang beruntung alias sering apes.

Saya hitung, cukup sering dia menelpon saya saat kondisi fisiknya lagi nggak bagus. Entah karena flu, kena diare, dan yang terakhir thypus. Yah, anggap saja itu kebetulan.

Kali lain dia menelpon adalah untuk curhat. Ceweknya selingkuh, mencari pacar yang lebih tajir. Dua kali dia mengalami itu. Psst, padahal sobat saya ini lumayan "punya". Pernah lagi, dia menghubungi saya dan bercerita dia kecopetan. Terakhir dia menelpon saya semalam, menanyakan merek laptop yang oke sesuai bujetnya.

Saya tanya, "Memang laptop-lo kenapa?"

"Rusak," jawab dia.

"Data-datanya selamat, nggak?" saya tanya dia lagi.

"Nggak. Padahal banyak report penting di situ," kata dia dengan nada suara sedih.

Setau saya, bikin report adalah pekerjaan utama sobat saya. Report-nya tentang data penjualan produk di perusahaan tempat dia bekerja. Lantaran kerjanya bikin report, sampai saya pernah meledek dia, "Sebenarnya yang reporter itu elu atau gue, sih!"

Obrolan semalam tentang laptop yang rusak membawa memori ke masa lalu, ke jaman di mana dia masih sibuk dengan skripsinya. Tiga perempat naskah skripsinya, berikut hasil risetnya, yang tersimpan di komputer musnah. Penyebabnya, komputernya hangus.

Saya sempat berpikir, apa sobat saya mesti ganti nama ya? Hihi, untuk buang sial. Terbukti, wajah tampan bukan jaminan orang beruntung.

***

Ini cerita lain. Suatu hari, kawan baik saya mengirim SMS. Isinya, "Gue baru baca media XXXXXX. Ada liputan profil tentang Mrs. X. Cantik, cerdas, tajir. Gue jadi bertanya-tanya, apa yang Tuhan pikir waktu menciptakan orang beruntung seperti dia."

Saya--terus terang--sudah punya pertanyaan yang sama sejak lama. Seingat saya, SMS itu nggak saya balas. Kebetulan saya kenal dengan tokoh yang diulas di media tersebut, dan saya mengamini bahwa dia memang orang beruntung.

Mungkin Tuhan lagi senang. moodNya lagi bagus? Itu tebakan saya (dalam hati) untuk menjawab pertanyaan tadi. Nah, kalau begitu, apa yang dipikirkan Tuhan waktu menciptakan manusia yang melulu apes? Sobat saya tadi sih nggak seberapa apes.

Apa Tuhan lagi bete? Atau mungkin Dia merasa semua ciptaan-Nya di Bumi sudah sempurna apa adanya. Karena itu Tuhan menciptakan manusia yang apesnya berkali lipat. Mukanya jelek, selalu bokek, miskin, badannya bau, suaranya cempreng, nggak punya orangtua, sering ditipu orang, gagal terus dalam proyek, susah dapat pekerjaan, dsb. Tapi, semua sempurna apa adanya di mata Tuhan.

Pertanyaan tentang alasan Tuhan menciptakan orang beruntung dan kurang beruntung, bagi saya nggak terlalu bikin penasaran. Yang masih bikin saya penasaran adalah, kenapa mesti ada manusia menyebalkan di dunia ini? God must have good reason for that.

Jadi, apa teman-teman termasuk orang yang beruntung atau yang kurang beruntung? Sekali lagi, pertanyaan ini jangan dianggap penting. Yang paling penting adalah, kita bersyukur dan merasa selalu beruntung. Betul?

Have a great weekend, everyone!


Gambar diambil dari sini.

Sunday, June 28, 2009

Penyakit Seribu Wajah

Pagi tadi adik saya berkisah, tentang kakak kawannya yang sakit parah. Gejala sakitnya sulit dikenali, daya tahan tubuhnya menurun.

"Kakak teman gue itu workaholic. Ternyata gaya hidupnya nggak seimbang. Kerja keras, sering lembur, tapi nggak diimbangi makanan yang cukup. Bukan nggak cukup makan ya. Tapi nggak cukup gizinya," kata adik saya.

"Apa kata dokter? Anemia ya?" saya tanya dia. Pasalnya, ada dua karib saya ditempeli penyakit itu--anemia. Sebabnya, gaya hidup yang nggak imbang, terlalu banyak kerja, kurang istirahat, dan (mungkin juga) kurang makan makanan bergizi. Gejalanya, mereka suka pingsan. Badan lemas dan vertigo. Kata dokter, ada kelainan di darah mereka.

Kembali ke cerita adik saya. Dia jawab, "Bukan. Bukan anemia. Dokter sampai susah ngenalin gejalanya. Pernah dikira kena Thypus, pernah juga demam berdarah. Saking parahnya, dokter juga pernah ngira kakaknya itu kena AIDS. Sampai akhirnya, ada sariawan di mulut kakaknya, dan lukanya melebar."

Kali ini tebakan saya nggak mungkin salah. "Lupus ya! Kakak temenlo perempuan?"

"Kok tau?" tanya adik saya.

Iya, saya tau. Beberapa tahun lalu, senior saya--perempuan--meninggal karena penyakit itu. Lupus dikenal sebagai penyakit seribu wajah. Gejalanya sulit dikenali. Kebanyakan penderita Lupus adalah perempuan. Beda dengan HIV/AIDS yang menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang, Lupus terjadi karena tubuh memproduksi terlalu banyak antibodi, hingga menyerang sistem dan jaringan tubuh penderitanya. Setau saya, belum ada obat untuk penyakit ini.

Sedikit info dari www.lupusindonesia.org, Lupus bisa menyerang kulit, mata, serta organ tubuh vital seperti ginjal, hati, paru-paru, hati, dan darah. Risiko terburuknya adalah kematian. Umumnya, Odipus (orang yang hidup dengan Lupus) harus menghindari stress, nggak boleh kerja berlebihan, dan menghindari kontak langsung dengan sinar matahari.

"Sekarang, kondisi kakak temenlo itu bagaimana?" tanya saya.

"Tinggal menunggu waktu. Umurnya 29 tahun, badannya habis. Bayangin saja, beratnya tinggal 12 kilo," kata adik saya. Kami cuma bisa berdoa, semoga ada keajaiban untuk si kakak.

Untuk teman-teman, terutama yang perempuan, kerja keras boleh, asal jangan sampai lupa waktu. Kesehatan mahal harganya. Working too much is not recommended for health...!

Notes: Posting kali ini nggak dilengkapi gambar ilustrasi. All pictures about Lupus I found on the net was sad pictures. I have no heart to put any of them here.

Sunday, June 21, 2009

Tak Akan Berhenti (Blogging)

Awalnya, saya sempat punya niat untuk menghapus blog ini. Tapi, setelah membaca postingan teman baik saya, Maya, saya urungkan niat itu.

Benar kata Maya, dari blog, saya bisa bertemu banyak teman baik. Dia salah satunya, yang saya kenal sepaket dengan Ria, Iko, dan Mas Daniel. Hiyak, perkenalan kami berawal dari blog, sampai akhirnya kami sering hang out bareng, wisata kuliner, jalan-jalan hemat, karaoke, dan main bowling. Sekarang mereka semua jadi teman baik saya.

Teman lain yang saya kenal dari blog adalah Toni. Hobinya sama seperti saya: traveling dan nonton film. Bedanya, Toni rajin traveling ke luar negeri, kalau saya sering traveling di Pulau Jawa. Dia rajin nonton film-film gres di bioskop, saya demen belanja DVD dan nonton di bioskop pribadi. Karena hobinya itu, Toni saya todong jadi penulis tetap di blog ruang-resensi yang saya bikin bareng karib saya Eno.

Setelah saya hitung, ternyata lebih banyak untung ketimbang rugi yang saya dapat dari blog ini. Jadi, blog ini bakal tetap hidup meski frekuensi updatenya nggak sesering dulu.

Harap maklum ya, saya lagi agak sibuk. Btw, kalau ada teman yang suka membaca tulisan saya, mulai Agustus 2009, tulisan saya juga bakal rutin tampil di Majalah CHIP. Hihi, sekalian promosi nih. Jadi, sampai jumpa di posting berikutnya, yaaa...

Gambar diambil dari sini