Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Saturday, March 16, 2013

Life Goes On

Gambar: amazonaws.com

“And life goes on, which seems kind of strange and cruel when you're watching someone die.” ― Melina Marchetta, on the Jellicoe Road

Siang ini saya membaca status seorang kawan di Facebook, tentang kehilangan seorang temannya.

Kemarin, seorang kawan berduka karena ada anggota keluarganya yang meninggal. Di hari yang sama, sahabatnya sedang merayakan ulang tahun.

Sehari sebelumnya, tiga orang kenalan memasang status dan foto yang sama di BlackBerry Messenger mereka, yang menunjukkan mereka tengah berduka karena kehilangan seorang rekan kerja.

Kebetulan ada seorang sahabat saya bekerja di gedung perkantoran yang sama dengan mereka. Saya tanya, apa ada yang baru meninggal di kantor mereka?

"Iya, anak lantai bawah, meninggal karena kecelakaan. Satu lantai lagi berkabung sekarang," jawab sahabat saya. 

Obrolan kami berlanjut. Sahabat saya bercerita, sedang ada perayaan di kantornya saat itu. Pikir saya, kontras sekali suasana di kedua lantai itu. Sementara satu lantai sedang berduka, lantai lainnya sedang merayakan sesuatu.

Untuk alasan yang berbeda, ada yang berduka, ada juga yang berbahagia. 

Friday, October 26, 2012

Ultreia!

Walk on, walk further.

The walk is the destination, not Santiago. 
Life is the destination. Now is the destination.
 Live now. (www.walkingwithawareness.com)

Saya senang sekali waktu pertama kali membaca resensi buku “Startup, Indonesia!” di Kompas.com. Membacanya, duh, saya terharu. Sahabat saya, Toni, men-share resensi tersebut ke halaman Facebook-nya. Ada satu pesan yang dia tulis untuk saya, “Ultreia!”

Satu kata ini membawa saya pada kenangan 2,5 tahun silam, ketika saya, Toni, dan dua sahabat kami, Agnes dan Astrid, melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago de Compostela. Camino de Santiago.

Ultreia! Satu kata ini menjadi penyemangat kami ketika kami harus berjalan kaki selama lima hari penuh di daratan Spanyol. Kaki kami bengkak, terkilir, memar-memar, melepuh, kulitnya mengelupas, juga berdarah karena perjalanan ini.

Wednesday, October 05, 2011

Paopao


Paopao, sahabat kecil saya. Di balik pembawaannya yang cerewet, manja, sok berani, dia adalah anjing yang paling tangguh yang pernah saya kenal.

Saya masih ingat saat-saat dia hadir mewarnai kehidupan saya―waktu dia lahir, dia sakit, dia nakal, bahkan setiap detik menjelang kepergiannya. Paopao. Dia menghibur saya saat saya sedih. Dia sahabat kecil kesayangan saya.