Showing posts with label Hati. Show all posts
Showing posts with label Hati. Show all posts

Saturday, March 16, 2013

Life Goes On

Gambar: amazonaws.com

“And life goes on, which seems kind of strange and cruel when you're watching someone die.” ― Melina Marchetta, on the Jellicoe Road

Siang ini saya membaca status seorang kawan di Facebook, tentang kehilangan seorang temannya.

Kemarin, seorang kawan berduka karena ada anggota keluarganya yang meninggal. Di hari yang sama, sahabatnya sedang merayakan ulang tahun.

Sehari sebelumnya, tiga orang kenalan memasang status dan foto yang sama di BlackBerry Messenger mereka, yang menunjukkan mereka tengah berduka karena kehilangan seorang rekan kerja.

Kebetulan ada seorang sahabat saya bekerja di gedung perkantoran yang sama dengan mereka. Saya tanya, apa ada yang baru meninggal di kantor mereka?

"Iya, anak lantai bawah, meninggal karena kecelakaan. Satu lantai lagi berkabung sekarang," jawab sahabat saya. 

Obrolan kami berlanjut. Sahabat saya bercerita, sedang ada perayaan di kantornya saat itu. Pikir saya, kontras sekali suasana di kedua lantai itu. Sementara satu lantai sedang berduka, lantai lainnya sedang merayakan sesuatu.

Untuk alasan yang berbeda, ada yang berduka, ada juga yang berbahagia. 

Thursday, February 14, 2013

Tentang Hari Kasih Sayang

Gambar: designsponge.com

Valentine's Day, Hari Valentine, atau Hari Kasih Sayang diperingati setiap tanggal 14 Februari. Budayanya sendiri berawal dari negeri bule. Singkat cerita, budaya itu lantas populer di Indonesia.

Sejarah soal Hari Valentine ternyata sangat menarik. Saya membacanya sekilas di Wikipedia. Perayaan ini dilakukan untuk mengenang seorang martir bernama Santo Valentinus atau St. Valentine.

St. Valentine adalah seorang imam yang hidup di masa Kekaisaran Romawi kuno. Sebagai imam, dia bertugas memberikan pelayanan kepada umatnya, termasuk memberikan sakramen pernikahan. Pada masa itu, para tentara dilarang untuk menikah. Tetapi St. Valentine menikahkan para tentara secara rahasia. Karena itu, akhirnya dia dipenjara dan dianiaya hingga mati.

Di Indonesia, banyak pro dan kontra soal merayakan hari kasih sayang ini. Itu kan budaya luar. Ngapain kita ikuti? Banyak juga yang bilang, kasih sayang kan seharusnya ditunjukkan setiap hari, nggak cuma di Hari Valentine. Nah, saya setuju dengan pendapat yang terakhir.

Tuesday, January 10, 2012

2012

I am about moving toward the unknown. I will let the stars show me the way. This year is going to be a whirlwind, but I will put my energy to make a change.

Sunday, December 18, 2011

Lukisan Jingga

Aku ingin menggambar sebuah lukisan di hati. Aku pilih jingga sebagai warna dasarnya, bukan merah ataupun biru. Jingga seperti pantulan sinar matahari, jingga seperti warna langit senja, jingga seperti warna sebuah harapan. Jingga, warna yang menyilaukan, sedikit menyengat, namun bersahabat.

Di lukisan itu, ada senyuman, ada perasaan yang membuncah, suka cita, cinta, dan harapan. Di lukisan itu, ada mimpi, ada rindu yang mengalir, sesuatu yang tak biasa. Di lukisan itu, ada cerita tentang aku dan jingga.

Sunday, November 27, 2011

Perantau


Apakah Anda sadar bahwa kita sebenarnya perantau di dunia ini? Rumah kita adalah di surga, di mana Tuhan sedang menyiapkannya bagi kita. Namun, banyak orang saat ini melupakan bahwa diri mereka adalah perantau sehingga yang mereka sibukkan adalah mengumpulkan harta di dunia ini. Padahal, pada akhirnya semua harta dunia itu tidak dapat mereka bawa ketika tiba saat untuk pulang ke rumah Bapa di surga.

Jangan lupakan bahwa kita adalah perantau di dunia. Gunakanlah harta duniawi kita untuk menghasilkan kekayaan surgawi.

Cuplikan renungan ini diambil dari sini. Gambarnya diambil dari sini.

Wednesday, October 05, 2011

Paopao


Paopao, sahabat kecil saya. Di balik pembawaannya yang cerewet, manja, sok berani, dia adalah anjing yang paling tangguh yang pernah saya kenal.

Saya masih ingat saat-saat dia hadir mewarnai kehidupan saya―waktu dia lahir, dia sakit, dia nakal, bahkan setiap detik menjelang kepergiannya. Paopao. Dia menghibur saya saat saya sedih. Dia sahabat kecil kesayangan saya.

Wednesday, July 20, 2011

Kematian

Kematian. Sesiap apapun kita menyambutnya, tak pernah cukup kuat kita menghadapinya. Rasanya seperti mimpi, bagi orang-orang yang ditinggalkan. Yang dapat menghibur hanyalah doa dan keyakinan bahwa jiwa yang telah pergi itu kembali kepada Sang Penciptanya, yang jauh lebih mengasihinya ketimbang siapapun di dunia ini.

Sunday, June 12, 2011

Thursday, May 26, 2011

Yaay! 30!


Wuih, hari ini saya dapat banyak sekali doa dan ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman saya. Happy, happy, happy—sampai bingung membalasnya satu per satu.

Terus terang, rasanya nggak ada yang istimewa pada hari ini. Hanya pertambahan usia saja. Untuk ultah kali ini, saya nggak bikin wish list. Nggak ada pula momen khusus untuk refleksi. Saya bersyukur, sangat bersyukur, dan berharap tahun ini akan lebih baik dari tahun lalu. Amin.

Gambar diambil dari sini.

Sunday, December 19, 2010

2011 Resolution

“What's your resolution for 2011?” my best friend asked me.

“Eat Pray Love a la Restituta Arjanti. The big picture is: Get Healthy, Get 'Rich', Get Happier!” I said.

“Nice!” he said.

So, what's yours?

PS: I don't like EPL a la Elizabeth Gilbert, btw. Odd and kinda impossible in real life. Don't you think?

Friday, December 17, 2010

Menyembuhkan Hati yang Luka


“Ajeng, kenapa ya sedih gue berlarut-larut? Gue paling sebal dengan keadaan kayak begini.”

“Coba cari kegiatan baru, masuk ke komunitas baru. Jangan buang air matalo untuk orang yang nggak menghargai perasaan lo. Ingat itu tiap kali lo mau menangis, ya.”

I sound cold, maybe. But I had nothing more to say. No one could fix a broken heart easily, in short time.

Kalau bisa memilih, pasti nggak ada seorang pun yang mau merasakan patah hati. Lukanya perih nggak tertahan, dan waktu untuk menyembuhkannya teramat lama. Saya rasa, nggak ada seorang pun yang bisa menjadi pakar untuk mengobati patah hatinya sendiri.

Saturday, October 30, 2010

Where is Indonesia?


Saat mengunjungi negara Asia atau negara Barat yang terkait sejarah dengan Indonesia, atau negara bule lain yang banyak ditinggali orang Indonesia, mungkin kita nggak perlu terganggu dengan pertanyaan ini. “Indonesia? Where is Indonesia?”

Tapi, lain halnya jika kita menjadi turis di negara Eropa yang jarang jadi destinasi wisata orang Asia. Spanyol, misalnya. Kemungkinan besar, pertanyaan “Where do you come from?” bakal diikuti dengan pertanyaan tadi. Yah, ini berdasarkan pengalaman saya sewaktu berkunjung ke sana, Mei lalu.

Monday, April 26, 2010

The Choice I (Finally) Took


We had joy we had fun we had
Seasons in the sun
But the hills that we climbed were
Just seasons out of time


We had joy we had fun we had
Seasons in the sun
But the wine and the songs like the
Seasons have all gone


***

I took the lyrics from a song I really like, Seasons in the Sun. The song was created by both singer and song writer Jacques Brel with the original tittle Le Moribond. The song itself had been adapted into English and sung by several singers, including Terry Jacks and boyband Westlife.

Saturday, December 26, 2009

Hadiah untuk Teman Baik

Kalau bisa, pengin rasanya saya protes ke sohib saya ini. "Bos, nulis profilnya susah bener! Bikin detlenku molor, nih!"

Hiya, menulis profil seorang sahabat yang sudah almarhum bukan hal gampang. Apa lagi ketika saya sudah merasa lumayan dekat dengannya. Perasaan haru biru dan fakta bahwa ternyata dia orang "besar" bikin saya kesulitan menulis. Jadi bukan lantaran saya nggak punya materi yang cukup untuk menulis tentang dia. Justru saya ingin menulis lebih bagus dari biasanya karena tau tulisan itu akan menjadi hadiah untuknya dan keluarganya.

Sunday, November 01, 2009

Penyakitnya Cuma Mampir


Sabtu (31/10) kemarin, saya dan beberapa kawan pergi mengunjungi RS Kanker Dharmais. Di sana, kami bikin acara nonton bareng anak-anak yang dirawat di sana. Film yang kami pilih adalah Garuda di Dadaku. Terus terang, itu adalah kali pertama saya mengunjungi RS tersebut.

Bagaimana perasaan saya? Terharu pastinya, melihat mereka punya semangat juang yang tinggi, meskipun penyakit jahat menggerogoti tubuh mereka. Dari seorang kawan yang adiknya dirawat di sana, saya tahu bahwa kebanyakan anak yang kami temui kemarin menderita kanker darah alias leukimia. Tapi, ada juga yang menderita kanker tulang, kanker mata, dan kanker usus.

Friday, July 24, 2009

Yang Beruntung dan Kurang Beruntung

Ada nggak sih kriteria untuk mengukur tingkat keberuntungan seseorang? Apa dari wajahnya yang cantik atau tampan, dari seberapa sering dia menang undian berhadiah, dari seberapa sukses kariernya, dari seberapa indah suaranya, atau dari mana?

Sobat saya punya wajah yang tampan. Dia juga pintar dan nggak katro, nyambung diajak ngobrol. Karena itu, banyak perempuan termehek-mehek pada dia. Tapi--semoga cuma saya yang memperhatikan--dia agak kurang beruntung alias sering apes.

Saya hitung, cukup sering dia menelpon saya saat kondisi fisiknya lagi nggak bagus. Entah karena flu, kena diare, dan yang terakhir thypus. Yah, anggap saja itu kebetulan.

Kali lain dia menelpon adalah untuk curhat. Ceweknya selingkuh, mencari pacar yang lebih tajir. Dua kali dia mengalami itu. Psst, padahal sobat saya ini lumayan "punya". Pernah lagi, dia menghubungi saya dan bercerita dia kecopetan. Terakhir dia menelpon saya semalam, menanyakan merek laptop yang oke sesuai bujetnya.

Saya tanya, "Memang laptop-lo kenapa?"

"Rusak," jawab dia.

"Data-datanya selamat, nggak?" saya tanya dia lagi.

"Nggak. Padahal banyak report penting di situ," kata dia dengan nada suara sedih.

Setau saya, bikin report adalah pekerjaan utama sobat saya. Report-nya tentang data penjualan produk di perusahaan tempat dia bekerja. Lantaran kerjanya bikin report, sampai saya pernah meledek dia, "Sebenarnya yang reporter itu elu atau gue, sih!"

Obrolan semalam tentang laptop yang rusak membawa memori ke masa lalu, ke jaman di mana dia masih sibuk dengan skripsinya. Tiga perempat naskah skripsinya, berikut hasil risetnya, yang tersimpan di komputer musnah. Penyebabnya, komputernya hangus.

Saya sempat berpikir, apa sobat saya mesti ganti nama ya? Hihi, untuk buang sial. Terbukti, wajah tampan bukan jaminan orang beruntung.

***

Ini cerita lain. Suatu hari, kawan baik saya mengirim SMS. Isinya, "Gue baru baca media XXXXXX. Ada liputan profil tentang Mrs. X. Cantik, cerdas, tajir. Gue jadi bertanya-tanya, apa yang Tuhan pikir waktu menciptakan orang beruntung seperti dia."

Saya--terus terang--sudah punya pertanyaan yang sama sejak lama. Seingat saya, SMS itu nggak saya balas. Kebetulan saya kenal dengan tokoh yang diulas di media tersebut, dan saya mengamini bahwa dia memang orang beruntung.

Mungkin Tuhan lagi senang. moodNya lagi bagus? Itu tebakan saya (dalam hati) untuk menjawab pertanyaan tadi. Nah, kalau begitu, apa yang dipikirkan Tuhan waktu menciptakan manusia yang melulu apes? Sobat saya tadi sih nggak seberapa apes.

Apa Tuhan lagi bete? Atau mungkin Dia merasa semua ciptaan-Nya di Bumi sudah sempurna apa adanya. Karena itu Tuhan menciptakan manusia yang apesnya berkali lipat. Mukanya jelek, selalu bokek, miskin, badannya bau, suaranya cempreng, nggak punya orangtua, sering ditipu orang, gagal terus dalam proyek, susah dapat pekerjaan, dsb. Tapi, semua sempurna apa adanya di mata Tuhan.

Pertanyaan tentang alasan Tuhan menciptakan orang beruntung dan kurang beruntung, bagi saya nggak terlalu bikin penasaran. Yang masih bikin saya penasaran adalah, kenapa mesti ada manusia menyebalkan di dunia ini? God must have good reason for that.

Jadi, apa teman-teman termasuk orang yang beruntung atau yang kurang beruntung? Sekali lagi, pertanyaan ini jangan dianggap penting. Yang paling penting adalah, kita bersyukur dan merasa selalu beruntung. Betul?

Have a great weekend, everyone!


Gambar diambil dari sini.

Friday, March 06, 2009

Small Brain in the Ass

I've just visited my friend's blog, and read her latest posts about shopping and the needs to have "me-time", time to be alone and relax without having any disturbance (including jobs).

Well, "me-time" is just something that we all--normal people--need. Right? I think, there was nothing wrong about the posts. I knew that recently, my friend was enjoying (window)shopping alot. That was part of her job as a writer. She needs to be updated about the trend of fashion and lifestyle. But I guess, not all people who visited her blog knew about the fact. And this stupid-man-with-a-very-small-brain-in-the-ass, definitely one of them who didn't know.

Sorry if I'm rude. That was my best "compliment" for the man who put unproper comments on my friend's blog. Very annoying comments.

When my friend wrote about the needs of having "me-time" for her self, this man judged her materialistic, shopaholic, lazy, and not really pretty. No wonder, he said, she is still single until now. Yeah, real stupid-man-with-a-small-brain-in-the-ass does exist, I guess. He mentioned his name "dodol". Seriously a "dodol" person. Kampungan dan norak.

I wrote this because I know my friend very well. First, she's independent. Shopaholic wasn't really a problem since she has a good job which gives her enough to have such lifestyle. Lagian, mosok iya, pengin ngerasain me-time aja langsung dicap malas! One more thing, she's pretty. Being single is her choice, until she find the right person for her.

Actually, I don't have to write this much. All I want to say, especially to that small-brain-in-the-ass, is: don't judge people by their blog. Don't say anything that might hurt someone, especially whom you didn't know well. Try to put respects on others, please. Even the net has netiquette. Intinya, jangan norak dong.

Yah, blog memang harusnya jadi media dua arah. Makanya blogger pun mesti hati-hati dengan tulisannya, karena siapa saja bisa memberi komentar. Tapi kalau tulisannya nggak bertendensi menjelekkan orang lain, apa pantas dikomentari yang nggak-nggak?

PS: Sudah lama banget nggak nulis dalam bahasa Inggris. Ada grammar yang salah, nggak? Jadi ingat, dulu kawan saya Warouw yang suka ngoreksi kesalahan bahasa Inggris saya. Hiks, sekarang dia sibuk selalu...

Gambar diambil dari sini. Saya nggak tega menampilkan gambar small-brain-in-the-ass di ruang coretan ini.

Monday, January 26, 2009

Selamat Jalan, Teman Baik...

"Jeng, siap untuk dengar berita yang paling buruk ya?" Hati saya mencelos menerima telpon dari Siska, kawan saya, Jumat (23/1), jam 10.00.

"Iya." Saya sudah bisa menebak apa kabar yang akan dia sampaikan.

"Mas Lendy meninggal."

"Kalau sudah ada info tentang kapan jenasahnya mau dibawa ke Malang, juga kapan pemakamannya, tolong kabarin ya Sis." Siska ini istri dari saudara sepupu Pak Lendy, Mas Teddy.

Satu jam sebelumnya, saya menerima SMS dari Siska. Isinya kabar tentang memburuknya kondisi Pak Lendy. Tekanan darahnya sudah nggak terekam alat.

Seminggu sebelumnya, saya dapat kabar bahwa kawan saya itu mengalami kecelakaan saat sedang berlibur di Bandung. Tubuhnya, 80-90 persen, gosong terbakar. Ceritanya bisa dibaca di sini.

Percakapan terakhir saya dengan Pak Lendy, via YM, tanggal 30 Desember lalu, pagi dini hari. Seperti biasa, cuma beliau satu-satunya kawan saya yang hobi online subuh-subuh.

Yang kami bahas waktu itu, East Java Trip, program keliling Jawa Timur yang kami rancang sejak Oktober 2008, yang seharusnya kami eksekusi paling lambat Maret 2009 besok. Seperti biasa, sayalah yang selalu punya alasan untuk menunda perjalanan itu. Dan sekarang, saya menyesal.

Sekarang, nggak ada lagi kawan yang menyapa saya di YM pagi-pagi subuh dengan sapaan khas, "Ajenkkk.. where r uu??"

Pak Lendy yang saya tau adalah seorang penulis, fotografer, praktisi TI gaul yang lebih banyak bergerak di belakang layar. He was very low profile, sayang keluarga, nggak haus publikasi, juga nggak pelit ilmu. Bagi saya, Pak Lendy ini adalah mentor, motivator, dan kotak curhat yang humoris. Dia bukan teman biasa, dia teman baik saya.

Saya yakin, banyak orang punya pikiran yang sama dengan saya. Lendy Widayana adalah teman baik banyak orang. Dia suka membantu dan nggak pernah bikin orang lain susah. Saya yakin, keluarga yang ditinggalkannya--Mbak Dona, istrinya, dan Mayanda, putra tunggalnya--akan selalu dilindungi Tuhan lewat tangan orang-orang yang sudah dibantu oleh Pak Lendy.

Pak Lendy, maaf saya cuma bisa melepas kepergian Bapak sampai di Rumah Duka RS. Santo Borromeus, Bandung. Saya akan nyekar ke makam Bapak sekalian waktu saya jalan-jalan keliling Jawa Timur. Tenang saja Bos, I will never let my memories of you disappear...

Saya bayangkan, apa kata malaikat yang menjemputnya untuk kembali ke Rumah Bapa pagi itu. "Good man, this is the end of your journey in this world. God will be glad to have you back at Home."

Saya pilih satu lagu yang menurut saya paling pas untuk melepas kepergian Pak Lendy Widayana, The Spirit Carries On, by Dream Theater.

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say "Life is too short"
"The here and the now"
And "You're only given one shot"
But could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we've got?

If I die tomorrow
I'd be alright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I'm not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I'd be alright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

"Move on, be brave
Don't weep at my grave
Because I'm no longer here
But please never let
Your memories of me disappear"

Gambar diambil dari flickr.com

Saturday, January 17, 2009

Semoga Esok Lebih Baik!

buka matamu, buka telinga, dan coba rasakan dunia, hidup tak akan tanpa cobaan.

bersenanglah di hari ini,
karena esok masih misteri. bersenanglah di malam ini, semoga esok lebih baik!
[Hari Ini Kau yang Punya, Drive]

Situs social networking memang sakti. Saya bisa bertemu lagi dengan teman-teman lama saya di internet, update kabar terbaru tentang mereka lewat internet. Salah satu teman yang nggak sengaja saya temukan lewat internet adalah teman SMP saya, si A.

Sedikit tentang si A. Dia jadi jagoan Fisika di angkatan kami. Selama 3 tahun kami duduk di kelas yang sama. Pernah juga kami duduk semeja. Tapi karena anaknya pendiam, nggak banyak hal yang saya tau tentang dia. Yang saya ingat cuma ini: dia kidal dan menulis pakai penggaris.

Beberapa kali kami berkirim email, bertanya kabar dan bergosip tentang teman-teman lama. Email terakhirnya bikin hati saya mencelos. "Yang lain (teman-teman kami) nasibnya ada beberapa yang kurang beruntung," tulisnya.

Kawan kami, si Y, sekarang jadi preman. Y itu bule Indo-Belanda, 12 tahun yang lalu badannya masih mungil. Anaknya baik dan lugu. Teman yang lain, YB, sekarang jadi satpam di sebuah showroom mobile di daerah Jakarta Barat. Yang lain, DF sekarang jadi petinju. Karena himpitan ekonomi, DF harus keluar dari SMA. Jaman SMP dulu, DF ini hobi main wrestling bareng teman-teman saya laki-laki.

"Sekarang DF jadi petinju. Masak kamu nggak tau? Adiknya meninggal. Coba baca di sini," kata A. Si A sendiri sekarang jadi guru di salah satu sekolah di Jakarta.

Tentu saja nggak semua teman kami nggak beruntung. Banyak juga yang bisa hidup senang. Si F sudah jadi karyawan perusahaan multinasional, punya rumah, dan investasi apartemen. Si E jadi model. Si H menikah dan (sepertinya) hidup berkecukupan. Si AS, yang dulu langganan nggak naik kelas, punya bisnis restoran yang lumayan. Saya kira, saya bisa masuk dalam kelompok beruntung.

Hari esok siapa yang sangka? Mundur ke 12 tahun yang lalu, yang saya lihat adalah wajah-wajah bahagia tanpa beban. Sekarang, kalau saya bertemu dengan teman-teman lama saya, di jalan misalnya, belum tentu saya mengenali mereka.

Untuk teman-teman yang masih bisa tertawa hari ini...

bersenanglah di hari ini, karena esok masih misteri.
bersenanglah di malam ini,
semoga esok lebih baik!

Gambar diambil dari flickr.com