Showing posts with label Celoteh. Show all posts
Showing posts with label Celoteh. Show all posts

Saturday, December 14, 2013

Hal-hal Unik di Thailand

Pad Thai, Wikipedia.org

Dari perjalanan tempo hari, ada beberapa hal unik tentang Thailand yang saya catat.

#1 Ada banyak sekali 7 Eleven (Sevel) di Bangkok! Setiap 25-30 meter, saya melihat Sevel. Yah, bisa jadi karena daerah yang saya susuri memang daerah strategis yang banyak dilewati para turis. Tetapi, Sevel yang saya lihat di sana kecil-kecil, sama seperti Sevel di kota-kota di negara lain yang pernah saya kunjungi. Jadi, sepertinya memang Sevel di Indonesia yang dibangun luas dan di-setting untuk jadi tempat nongkrong anak muda. (x_x)

#2 Orang-orang Thailand ini royal sedotan! Setiap kali saya beli minuman—apapun itu—pelayan toko memberi saya sedotan dan kantong plastik. Entah kita beli air mineral ukuran 600 ml atau 1,5 liter, atau jus dalam kemasan botol ataupun kotak, pelayan toko pasti akan memberi kita sedotan, dan kantong plastik. 

Friday, November 01, 2013

Mengurus Perpanjangan Paspor Sendiri Mudah dan Hemat, Tapi...


Gambar: Flickr.com

Minggu lalu, saya mengurus sendiri perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan (Kanim Jaksel). Awalnya, saya bayangkan urusannya bakal ribet, memakan waktu dan tenaga. Ternyata, memang memakan waktu dan tenaga. Tetapi, prosesnya mudah dan nggak ribet.

Ini adalah pengalaman pertama saya mengurus paspor sendiri. Sebelumnya, saya selalu menggunakan jasa travel agent. Maklum, dulu semua diurus dan dibiayai oleh kantor tempat saya bekerja. Tetapi, sejak jadi freelancer, saya harus lebih mandiri dan cermat berhitung dong. :')

Sebelum memutuskan untuk mengurusnya sendiri, saya sempat mencari info soal biaya terkini jika mengurus perpanjangan paspor melalui travel agent.

“Biaya perpanjangan paspor di Imigrasi Jakarta Selatan Rp531.000. Kalau di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat Rp470.000. Prosesnya di tempat kami 3 minggu, Mbak,” kata petugas travel agent yang jasanya dulu pernah saya gunakan.

Lalu, saya coba cek info di website Imigrasi Indonesia. Biayanya hanya Rp255.000. Paspor selesai dalam seminggu. Ya sudah, saya pun mantap mencoba mengurus sendiri. Selain jauh lebih hemat, saya juga pengin tahu prosesnya. Lagipula, load kerja saya sedang rendah.

FYI, sekarang ini mengurus pembuatan dan perpanjangan paspor bisa dilakukan dengan melakukan pre-registrasi secara online melalui www.imigrasi.go.id. Hal ini bisa menghemat cukup banyak waktu, karena kita cukup datang 2 kali ke kanim. Pertama, untuk melakukan pendaftaran, menyerahkan berkas dokumen, sekaligus melakukan pengambilan foto dan sidik jari, serta wawancara. Kedua, untuk mengambil paspor yang baru.

Sementara tanpa pre-registrasi online, kita perlu datang 3 kali ke kanim. Pertama, untuk melakukan pendaftaran dan menyerahkan berkas-berkas dokumen. Kedua, untuk melakukan pengambilan foto dan sidik jari, serta wawancara. Ketiga, untuk mengambil paspor.

Sayangnya, beberapa minggu lalu saya tidak bisa mendaftar online karena—menurut petugas Kanim Jaksel yang saya tanya—sedang ada perbaikan sistem untuk kantor mereka. Akhirnya, saya putuskan untuk langsung datang ke Kanim Jaksel yang berlokasi di daerah Warung Buncit.

Dan, beginilah prosedurnya: 

Thursday, October 31, 2013

Untung Ada Asuransi

Gambar: gbsjp.org


Kejadiannya awal September lalu. Mobil saya ditubruk sepeda motor yang melaju dari arah berlawanan. Waktu itu malam hari, jalan raya cukup sepi dengan penerangan yang minim. Dari jarak sekitar 20 meter, ada sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba, sepeda motor itu oleng, dan pengemudinya loncat dari motornya.

Ah, orang gila!

Motornya jatuh lalu meluncur ke arah... mobil saya.

Apes deh... 

Saturday, March 16, 2013

Life Goes On

Gambar: amazonaws.com

And life goes on, which seems kind of strange and cruel when you're watching someone die.” ― Melina Marchetta, on the Jellicoe Road

Siang ini saya membaca status seorang kawan di Facebook, tentang kehilangan seorang temannya.

Kemarin, seorang kawan berduka karena ada anggota keluarganya yang meninggal. Di hari yang sama, sahabatnya sedang merayakan ulang tahun.

Sehari sebelumnya, tiga orang kenalan memasang status dan foto yang sama di BlackBerry Messenger mereka, yang menunjukkan mereka tengah berduka karena kehilangan seorang rekan kerja.

Kebetulan ada seorang sahabat saya bekerja di gedung perkantoran yang sama dengan mereka. Saya tanya, apa ada yang baru meninggal di kantor mereka?

"Iya, anak lantai bawah, meninggal karena kecelakaan. Satu lantai lagi berkabung sekarang," jawab sahabat saya. 

Obrolan kami berlanjut. Sahabat saya bercerita, sedang ada perayaan di kantornya saat itu. Pikir saya, kontras sekali suasana di kedua lantai itu. Sementara satu lantai sedang berduka, lantai lainnya sedang merayakan sesuatu.

Untuk alasan yang berbeda, ada yang berduka, ada juga yang berbahagia. 

Thursday, February 14, 2013

Tentang Hari Kasih Sayang

Gambar: designsponge.com

Valentine's Day, Hari Valentine, atau Hari Kasih Sayang diperingati setiap tanggal 14 Februari. Budayanya sendiri berawal dari negeri bule. Singkat cerita, budaya itu lantas populer di Indonesia.

Sejarah soal Hari Valentine ternyata sangat menarik. Saya membacanya sekilas di Wikipedia. Perayaan ini dilakukan untuk mengenang seorang martir bernama Santo Valentinus atau St. Valentine.

St. Valentine adalah seorang imam yang hidup di masa Kekaisaran Romawi kuno. Sebagai imam, dia bertugas memberikan pelayanan kepada umatnya, termasuk memberikan sakramen pernikahan. Pada masa itu, para tentara dilarang untuk menikah. Tetapi St. Valentine menikahkan para tentara secara rahasia. Karena itu, akhirnya dia dipenjara dan dianiaya hingga mati.

Di Indonesia, banyak pro dan kontra soal merayakan hari kasih sayang ini. Itu kan budaya luar. Ngapain kita ikuti? Banyak juga yang bilang, kasih sayang kan seharusnya ditunjukkan setiap hari, nggak cuma di Hari Valentine. Nah, saya setuju dengan pendapat yang terakhir.

Tuesday, January 22, 2013

It Is Fun, Talking to Stranger

Gambar: www.avisamkaplan.com

Being among a crowd of stranger is a good therapy to realize that we have nothing to worry about.


Sejak kecil kita diajarkan untuk nggak bicara dengan orang asing, sembarang orang yang kita temui di jalan. Hal positif dari ajaran itu adalah kita jadi lebih berhati-hati. Tetapi, ada juga sisi negatifnya. Kita bisa jadi parno, terlalu khawatir dan curiga terhadap orang lain.

Ketika memasuki lingkungan baru, bertemu dengan orang-orang baru, kita jadi merasa insecure. Dulu, saya juga sering merasa nggak nyaman bertemu dengan orang-orang baru, apa lagi jika mereka punya latar belakang bidang yang berbeda dengan saya. Tetapi saya pikir, saya pikir dan pikir lagi, buat apa saya merasa nggak nyaman dengan mereka ya? Mereka juga kan manusia, sama-sama ciptaan Tuhan.

Sekarang, saya justru menikmati bisa bertemu dengan orang-orang baru. Sebenarnya, ketika kita bertemu dengan orang asing, apa lagi yang menggeluti bidang yang berbeda dengan kita, justru kita bisa melonggarkan diri kita.

Bertemu dan ngobrol dengan orang asing, bahkan random stranger sekalipun, banyak asyiknya. Ada beberapa alasannya, menurut saya. 

Monday, January 21, 2013

Camping di Bromo



Gunung Bromo, Batok, dan Semeru di kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.

Menutup tahun 2012, saya pergi camping di Bromo bersama beberapa kawan yang tinggal di Malang, Jawa Timur. Dari Jakarta, saya pergi sendiri naik kereta api. Sudah lama saya nggak naik kereta, dan saya pengin tahu bagaimana rasanya naik kereta Gajayana. Perjalanan Jakarta-Malang cukup panjang, 15 jam. Syukurlah jadwal keretanya tepat waktu.  

Awalnya, saya dan kawan-kawan berencana untuk tracking ke Semeru dan camping di Ranu Kumbolo di kaki Gunung Semeru. Yang sudah nonton 5 cm pasti tahu, dong. Tetapi mengingat faktor cuaca, akhirnya kami putuskan untuk camping di Bromo saja.

Beberapa kawan yang hobi adventure tahu letak hidden spot yang menghadap langsung pemandangan 3 gunung besar di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (BTS), yaitu Gunung Bromo, Batok, dan Semeru. Mereka menjadi guide kami menuju ke lokasi tersebut.

Kami berangkat dengan 3 mobil 4x4 dari Malang sekitar pukul 8 malam, tanggal 30 Desember. Perjalanan menuju Bromo seru sekali karena kami harus melintasi rute offroad di sekitar BTS—melewati Bukit Teletubbies, Lautan Pasir, lalu naik ke kawasan pegunungan Bromo yang terjal. 

Saturday, January 19, 2013

Serendipity

Gambar: namebrandketchup.wordpress.com

“Cara kerja alam semesta itu luar biasa, ya!” Entah berapa kali, dan berapa orang kawan pernah mendengar saya mengucapkan kalimat ini. Semoga mereka nggak bosan mendengar itu. Hahaha.

Pernah mendengar istilah “serendipity”? Serendipity adalah kebetulan atau kejutan yang menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita. Misalnya, kita bertemu dengan seseorang yang kita pikirkan, tanpa kita berusaha untuk mencarinya. Atau, kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tanpa kita berusaha mendapatkannya.

Nah, saya percaya dengan serendipity. Menurut saya, serendipity berhubungan dengan faktor luck dan law of attraction. Makanya saya sangat kagum dengan cara kerja alam semesta.

Posting kali ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya, Keep Your Dream Alive. Kenapa saya pengin banget menulis soal serendipity? Karena saya sering sekali mengalaminya. Yah, setidaknya menurut perasaan saya. Contohnya? 

Saturday, December 29, 2012

Terima Kasih, 2012



Tahun ini, ada banyak hal yang harus saya syukuri. Beberapa resolusi sudah bisa dicoret dari daftar dan nggak perlu diperpanjang sampai tahun 2013. Ada beberapa catatan penting yang saya buat tahun ini. Yang paling fenomenal adalah tahun ini, akhirnya, buku pertama dengan nama saya di kavernya diterbitkan. Startup, Indonesia! Saya tulis tandem dengan rekan saya, Reney.

Hayo, teman-teman yang belum baca bisa cari bukunya di Gramedia atau toko-toko buku besar lainnya. Beli melalui toko buku online juga bisa, kok. Aih, promosi ya. Info tentang bukunya bisa dilihat di kolom kanan halaman blog ini. ;)

Satu hal penting lainnya adalah soal karir. Saya memutuskan mengundurkan diri sebagai karyawan tetap dari perusahaan tempat saya bekerja. Mulai Januari 2013, saya cuma menjadi contributing editor saja di sana.

Saturday, December 15, 2012

Bekerja dengan Senyum



Hai, siapa yang lagi merasa punya pekerjaan paling payah sedunia, merasa dirinya malang, dizolimi, atau diremehkan karena pekerjaan itu? Kalau ada, jangan merasa begitu lagi ya.

Pernah nggak kalian bayangkan pekerjaan para petugas cleaning service yang setiap hari harus berjaga di toilet, dan membersihkan bekas-bekas kotoran banyak orang? Bisa nggak kalian memposisikan diri kalian sebagai mereka?

Di suatu Jumat sore, saya main ke mal kesayangan saya di Pondok Indah. Namanya juga cewek, kalau ke mal untuk main, pasti waktunya nggak singkat dan pasti mampir ke toilet!

Menjelang akhir pekan, mal selalu ramai pengunjung. Begitu juga toiletnya. Saya antre di depan salah satu pintu toilet. Nggak lama, seorang ibu keluar. Seperti biasa, saya intip sebentar toiletnya untuk melihat bersih atau nggak. Ternyata belepotan, ih. Saya jadi ragu untuk masuk. 

Tuesday, December 11, 2012

Seperti Semut



Sewaktu kuliah dulu, saya punya seorang kawan. Peter namanya. Dia pernah mentertawakan kebiasaan saya yang katanya seperti semut.

Hari itu kebetulan kami menghadiri beberapa kelas yang sama. Kelar dari kelas pertama di Kampus A, kami harus pindah ke kelas berikutnya di Kampus B. Pergilah kami menuju kampus B berdua. Jarak kedua kampus itu nggak jauh, kira-kira 200-300 meter. Sepanjang jalan, kami berpapasan dengan kawan-kawan saya.

Kawan: Halo, Jeng. Habis kuliah apa?
Saya: Hei, halo! Blablabla. Eh, kenalin ini teman gue, Peter.

Lalu kami berpapasan lagi dengan kawan saya yang lain. Saya dan kawan saling bertegur sapa lagi, dan lagi-lagi saya bilang, “Btw, kenalin ini teman gue, Peter.”

Hal itu terjadi beberapa kali lagi sepanjang perjalanan singkat menuju Kampus B. Si Peter pun terkikik. 

Friday, October 26, 2012

Ultreia!

Walk on, walk further.

The walk is the destination, not Santiago. 
Life is the destination. Now is the destination.
 Live now. (www.walkingwithawareness.com)

Saya senang sekali waktu pertama kali membaca resensi buku “Startup, Indonesia!” di Kompas.com. Membacanya, duh, saya terharu. Sahabat saya, Toni, men-share resensi tersebut ke halaman Facebook-nya. Ada satu pesan yang dia tulis untuk saya, “Ultreia!”

Satu kata ini membawa saya pada kenangan 2,5 tahun silam, ketika saya, Toni, dan dua sahabat kami, Agnes dan Astrid, melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago de Compostela. Camino de Santiago.

Ultreia! Satu kata ini menjadi penyemangat kami ketika kami harus berjalan kaki selama lima hari penuh di daratan Spanyol. Kaki kami bengkak, terkilir, memar-memar, melepuh, kulitnya mengelupas, juga berdarah karena perjalanan ini.

Wednesday, October 10, 2012

AMDG: Ad Maiorem Dei Gloriam

Seorang kawan kerap menulis singkatan “AMDG” di status media sosialnya. Saya jadi penasaran.

Setelah penelusuran singkat di internet, saya pun tahu apa itu AMDG. AMDG adalah singkatan dari Ad Maiorem Dei Gloriam, istilah Latin yang dalam bahasa Inggris berarti “for the greater glory of God”. Istilah itu digunakan sebagai motto dari Serikat Jesuit yang didirikan oleh St. Ignatius Loyola.

Kalimat itu menarik perhatian saya. Motto “for the greater glory of God” ini bukan hanya pas sebagai pegangan orang-orang yang menjalankan tugas misionaris. Semangat AMDG ini menurut saya bagus untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Eh, posting kali ini agak serius ya. :-)

Ini lamunan saya di suatu sore, dalam perjalanan macet menuju ke rumah. Dalam sehari, kita punya waktu 24 jam. Dalam seminggu, kita bekerja 5 hari. Kalau kebanyakan pekerja di Jakarta tinggal di daerah pinggiran kota—Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi—rata-rata waktu yang mereka habiskan dalam perjalanan pulang-pergi bisa sekitar 4-5 jam.

Mimpi Indonesia Bebas Korupsi



Beberapa minggu lalu, seorang kawan bercerita tentang koleganya yang melakukan korupsi di perusahaan tempat si kolega bekerja. Singkat cerita, si kolega itu menggelapkan uang perusahaan senilai sekitar Rp200 juta. Itu yang ketahuan...

Beberapa minggu lalu juga, saya naik taksi sepulang menghadiri sebuah konferensi di Jakarta. Lalu-lintas ibu kota, seperti biasa, padat. Sepanjang perjalanan, sopir taksi mengeluh soal korupsi. "Jakarta ini macet, sudah kebanyakan mobil. Banyak yang korupsi, sih!" kata dia.

Monday, July 09, 2012

Mengkhayal Soal Masa Depan, It's OK

Mengkhayal soal masa depan itu, menurut saya, sah-sah saja dan belum pasti bikin waktu kita terbuang percuma. Dulu, saya selalu punya waktu untuk mengkhayal tentang hal-hal yang seru dan hebat. Tapi, waktu mengkhayal saya itu lama-lama tergerus oleh kegiatan kerja saya.

Tapi mulai hari ini, saya bertekad akan menyediakan waktu khusus untuk mengkhayal lagi dan mencatat daftar khayalan saya.

Kenapa?

Wednesday, July 04, 2012

(Semoga Masih Ada) Harapan untuk Jakarta

Dulu, saya pengin banget punya mobil sendiri. Kalau pergi naik taksi, rasanya sesak kalau harus mengeluarkan duit lebih dari Rp50 ribu. Apalagi rumah saya jauh. Kalau pulang-pergi naik taksi, kebayang kan beratnya?

Kalau pergi naik ojek, rasanya sedih kalau tiba-tiba di tengah jalan turun hujan. Rasanya nelangsa banget. Kalau pergi naik angkot, rasanya emosi lantaran si sopir betah ngetem mencari penumpang.

Let's Not Too Worry About Numbers

Never worry about numbers. Help one person at a time and always start with the person nearest you.” — Mother Teresa

Semakin dewasa kita, semakin banyak kebutuhan yang harus kita penuhi dan akan semakin pusing kita menyusun neraca keuangan. Ih, betul banget itu. Belakangan ini, topik pembicaraan saya dengan para sahabat berputar di soal angka: investasi, tabungan, dana darurat, biaya operasional rumah tangga, cicilan-cicilan, dan yang paling bikin sesak—harga-harga kebutuhan pokok yang kian melambung.

Friday, April 13, 2012

Khusus Perempuan: Tips Disayang Pacar


Posting saya kali ini khusus untuk teman-teman perempuan yang lagi memupuk hubungan dengan pria idamannya. Ahahahay....

Tipsnya super-ringkas! Tips ini diberikan oleh seorang bapak tua yang kebetulan saya ajak ngobrol di Changi International Airport, Singapore, sembari menunggu penerbangan menuju Jakarta. Berawal dari obrolan basa-basi seputar Singapura, Jakarta, cuaca, dan lalu-lintas, akhirnya si Bapak memberikan pelajaran hidup yang akan kalian baca ini.

Bagaimana cara menaklukkan hati seorang pria?

Bang Bing Bung, Yooook Kita Nabung!


"Uang seribu dua ribu untuk saya nggak akan bikin Anda jadi miskin, dan seribu dua ribu dari Anda nggak akan membuat saya jadi kaya." 
Kalimat itu diucapkan oleh seorang pengamen di Kowanbisata 102 jurusan Tanah Abang—Ciputat, sebelum dia mengedarkan bungkusan plastik untuk menampung recehan dari para penumpang minibus warna kuning ngejreng itu.

Saya setengah mengamini kalimat itu. Memberi uang seribu dua ribu perak nggak akan membuat kita jatuh miskin—betul. Tapi saya pikir, yang paling penting dalam memberi itu kan rasa ikhlasnya ya. Kalau saya sih, masih lihat-lihat dan menilai sebelum memberi: mereka nyanyinya niat atau nggak, kira-kira uang yang mereka dapatkan digunakan untuk apa ya? Kalau sikapnya sopan, matanya nggak beler, suaranya jelas, dan tangannya bersih nggak ada bekas jarum suntik—ya, saya ikhlas memberi. 

Thursday, October 06, 2011

Menikmati Hanoi, Hoa Lu-Tam Coc, dan Ha Long Bay



Hoan Kiem Lake, Ha Noi
Tanggal 20-26 September lalu, saya melakukan perjalanan ke daerah Vietnam Utara. Saya pergi hanya berdua kawan saya, Ninun. Saya bagi cerita tentang perjalanan ini, ya.