Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Saturday, January 19, 2013

Serendipity

Gambar: namebrandketchup.wordpress.com

“Cara kerja alam semesta itu luar biasa, ya!” Entah berapa kali, dan berapa orang kawan pernah mendengar saya mengucapkan kalimat ini. Semoga mereka nggak bosan mendengar itu. Hahaha.

Pernah mendengar istilah “serendipity”? Serendipity adalah kebetulan atau kejutan yang menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita. Misalnya, kita bertemu dengan seseorang yang kita pikirkan, tanpa kita berusaha untuk mencarinya. Atau, kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tanpa kita berusaha mendapatkannya.

Nah, saya percaya dengan serendipity. Menurut saya, serendipity berhubungan dengan faktor luck dan law of attraction. Makanya saya sangat kagum dengan cara kerja alam semesta.

Posting kali ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya, Keep Your Dream Alive. Kenapa saya pengin banget menulis soal serendipity? Karena saya sering sekali mengalaminya. Yah, setidaknya menurut perasaan saya. Contohnya? 

Saturday, January 10, 2009

Stephenie Meyer, Bravo!

Ada beberapa hal yang saya simpulkan setelah menonton Twilight dan membaca dua buku lanjutannya, New Moon dan Eclipse.

Satu, Stephenie Meyer punya daya imajinasi mengagumkan. Bravo!

Dua, dia pecinta cerita roman, paling nggak Romeo and Juliet dan Wuthering Heights. Dua cerita itu lumayan jadi inspirasinya di New Moon dan Eclipse.

Tiga, karakter Bella ternyata menyebalkan, jatuh cinta pada dua pria sekaligus. Tapi saya nggak menyalahkan Bella sih. Kalau saya jadi dia, saya juga bakal naksir vampir ganteng dan werewolf keren, Edward dan Jacob. Memosisikan diri sebagai Bella, kalau nggak bisa dapat keduanya, sepertinya saya bakal memilih Jacob. Mungkin ini menjelaskan kekecewaan saya karena tokoh Bella pada akhirnya lebih memilih Edward... :p

Empat, cerita ini jelas beda dengan cerita tentang makhluk penghisap darah yang pernah ada. Dan saya heran saja sih kenapa masih saja ada orang blo'on yang membanding-bandingkan Twilight dengan Bram Stolker's Dracula. Stephenie Meyer cukup kreatif menciptakan cerita vampir ala dia. Dan memang segmen pembaca yang diincarnya jelas: perempuan usia remaja, atau perempuan usia dewasa yang masih demen berkhayal. Sialnya, saya termasuk di kelompok kedua.

Lima, banyak yang bilang Edward di film nggak bisa merepresentasikan Edward di buku. Tapi terus terang, saya lebih suka Edward di film ketimbang yang di buku. Lebih masuk akal. Menurut saya, karakter Edward di buku terlalu baik, lempeng banget, seperti malaikat. Tapi, dari awal memang cerita ini nggak dimaksudkan sebagai cerita yang masuk akal, bukan?

Enam, saya yakin, banyak yang nonton Twilight lebih dari sekali. Terbukti, waktu saya nonton, sekelompok cewek di baris belakang saya—abege pastinya—terus mendesah tiap kali Edward bergerak. “Oooh... Aaah...” Please deh, annoying banget...


Tujuh, menurut saya, Robert Pattinson nggak cakep banget, ah! Tapi, saya akui ada angle tertentu yang bisa bikin tampangnya kelihatan cakep banget. Kalau saya amati, tampang kamerageniknya di sebelah kanan, deh. Terus terang, baca bukunya, di bayangan saya, tampang Edward lebih mirip Matt Dallas, bintang serial Kyle XY... :p (lihat foto di atas, cakep kan?)

Delapan, saya nggak sabar untuk menunggu terjemahan dari buku keempatnya, Breaking Dawn. Penasaran baca endingnya (meskipun sudah dapat sedikit bocoran dari teman saya, Maya).

Sembilan, saya harus tulis resensi bukunya untuk dipajang Ruang Resensi. Dengan catatan, tunggu saya agak nggak sibuk yaaa...

Gambar Twilight diambil dari photobucket.com
Gambar Matt Dallas diambil dari www.generiques-mag.com

Tuesday, December 09, 2008

Wisdom from Mr. Magorium

Film yang bagus harus punya good memorable quote. Paling nggak, itu menurut standar saya. Film When Harry Met Sally contoh film bagus pilihan saya. Psst, ini juga film kesukaan teman saya, si Emmet. Dia yang pertama kali maksa saya untuk nonton film ini, sampai minjamin VCD-nya untuk saya. Nggak sangka Emmet demen juga nonton film roman. Kirain cuma demen nonton Miyabi... :p

Ini memorable quote dari Harry Burns, waktu dia menyatakan cintanya ke sobatnya, Sally Albright.
"I love that you get cold when it's 71 degrees out. I love that it takes you an hour and a half to order a sandwich. I love that you get a little crinkle above your nose when you're looking at me like I'm nuts. I love that after I spend the day with you, I can still smell your perfume on my clothes. And I love that you are the last person I want to talk to before I go to sleep at night. And it's not because I'm lonely, and it's not because it's New Year's Eve. I came here tonight because when you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible."
Tuh! Bagus, kan? Masih ada banyak film bagus pilihan saya. Tapi, ya nggak mungkin semua quote-nya saya posting ke blog. Nah, saya dapat satu lagi film bagus. Mr. Margorium's Wonder Emporium. Iya, filmnya memang sudah agak lama, tapi baru saya tonton barusan. Film itu biasa saja, menurut saya, awalnya. Tapi begitu saya dengar kalimat menggugah ini meluncur dari mulut Pak Edward Magorium, film itu langsung dapat tempat di hati saya. Cieh!
"Your life is an occasion. Rise to it."
Waktu mendengar kata-kata itu, sepertinya Tuhan sendiri berbisik pada saya. Hihi! Kedengarannya agak berlebihan ya? Tapi ya memang saya suka melebih-lebihkan sesuatu, sih. Words of wisdom-nya Pak Magorium ini bikin saya mau mikir, kir, kir, bagaimana caranya living life to the fullest.

Sayangnya, otak saya lagi nggak nyampe untuk mikir dalam dan berat. Jawaban paling dahsyat yang bisa saya pikirkan cuma satu ini: living life to the fullest mesti dimulai dengan liburan menyenangkan. Momennya pas, kan? Desember, akhir tahun, liburan!

Gambar diambil dari www.starpulse.com

Tuesday, February 12, 2008

P.S. I Love You

“So now, alone or not, you’ve got to walk ahead. Thing to remember is if we’re all alone, then we’re all together in that too.”

Perasaan. Kehilangan. Sedih. Terpuruk. Lewat tokoh Holly (Hillary Swank), semuanya bisa digambarkan dengan jelas. Kematian Gerry (Gerard Butler), suaminya, di usia muda 35 tahun akibat tumor otak membuat hidupnya hancur.

Holly dan Gerry menikah di usia sangat muda. Karena itulah hubungan keduanya tidak mendapat restu penuh dari orangtua mereka. Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, mereka jatuh cinta, dan akhirnya menikah.

Gerry bekerja sebagai sopir limosin, dan Holly sebagai agen real estate. Hidup mereka bisa dibilang pas-pasan. Dan masalah ekonomi ini yang kerap menjadi penyebab pertengkaran mereka. Bahkan karena masalah ini, Holly mengurungkan niatnya untuk segera memunyai anak. Tapi di balik pertengkaran yang sering terjadi ini, kedua insan ini saling mencintai.

Kepergian Gerry ibarat meninggalkan lubang yang teramat dalam di hati Holly. Bahkan rasa sakitnya tak bisa disembunyikannya. Perempuan ini menutup diri untuk waktu yang lumayan lama—menjaga jarak dari lingkup sosial dan keluarganya.

Hingga akhirnya tiba hari ulang tahunnya yang ke-30. Beberapa kerabat datang mengunjunginya—sang ibu Patricia (Kathy Bates); sahabatnya Denise (Lisa Kudrow), Sharon (Gina Gershon), dan John (James Marsters); serta adiknya Ciara (Nelly McKay). Saat mereka berkumpul, datang paket kue tart dan tape recorder dari Gerry. Dalam rekaman, Gerry menyuruh Holly untuk berdandan cantik dan merayakan ulang tahunnya bersama teman-teman perempuannya. Dalam rekaman itu, Gerry juga berpesan bahwa surat-surat darinya akan datang secara tak terduga.

Sejak hari itu, yang Holly tunggu hanya surat-surat dari Gerry yang sebenarnya dibuat oleh Gerry sebagai panduan untuk istrinya tercinta kembali ceria, menjadi dirinya sendiri, setelah kehilangannya. FYI, setiap surat yang ditulis oleh Gerry untuk Holly selalu diakhiri dengan goresan kata “P.S. I Love You.”

Dari judulnya, kita pasti tau kalau film ini bergenre drama romantis. Tapi drama romantis yang satu ini beda dari yang pernah ada sebelumnya—sebut saja When Harry Meet Sally, The Holiday, Love Actually, atau Sleepless in Seattle sebagai contoh. Romantisme yang diobral di sini tidak melulu ditampilkan dalam kenangan-kenangan indah semasa Gerry hidup mendampingi Holly. Justru romantisme terlihat dalam cara unik yang dilakukan Gerry untuk mengembalikan kehidupan Holly.

Sepeninggal Gerry, muncul dua pria dalam hidup Holly. Yang pertama adalah Daniel (Harry Conick Jr.), pria yang bekerja di resto milik Patricia, yang jatuh cinta padanya. Dan yang kedua adalah William (Jeffrey Dean Morgan), kawan band Gerry yang berkenalan tanpa sengaja ketika Holly sedang berlibur mengunjungi Irlandia, kampung halaman Gerry.

Berbagai kelucuan juga menghiasi film ini. Jadi, selain menyedot perasaan haru, penonton juga diajak untuk tertawa melihat kekonyolan karakter-karakter di film ini. Denise contohnya, digambarkan sebagai wanita dewasa yang sibuk mencari kekasih. Di setiap pesta, ada pertanyaan-pertanyaan andalan yang disiapkannya untuk orang yang nyantel di matanya—“Are you married?”, “Are you a gay?”, “Do you work?”, dan “What’s your name?”. Langkah selanjutnya adalah mencium pria yang disukainya—punya masalah bau mulut atau tidak. Tokoh Denise ini seksis dan straight to the point. Dia memandang pria sebagai objek seks, yang menurutnya itu adalah adil karena banyak pria juga memandang wanita dengan cara demikian. Denise mewakili kaum wanita yang merasa dirinya pantas untuk mendapatkan laki-laki yang terbaik untuknya. Menurutnya, alasan karena ia belum juga menemukan pria yang tepat adalah karena pria itu terlalu sibuk dengan wanita-wanita yang salah, bukan karena ia mematok kriteria cowok terlalu tinggi. In the end, she did find someone.

All of all, film ini sangat menghibur dan menyegarkan. Merupakan adaptasi dari novel Chik Lit dengan judul yang sama karangan Cecelia Ahern (yang adalah putri Perdana Menteri Irlandia Taoiseach Bertie Ahern), film ini juga mampu membuat para penonton terpesona dengan pemandangan alam Irlandia. Tak rugi untuk menonton P.S. I Love You. Jelas film ini wajib bagi para penikmat film romantis.

Resensi film ini juga bisa dilihat di sini.

Thursday, November 08, 2007

The Last Sin Eater


Saya mau cerita nih. Kemarin saya nonton film "The Last Sin Eater". Saya pikir film ini mengisahkan dongeng atau asal-usul satu kepercayaan, ternyata lebih dalam. Menurut saya, film ini pas untuk diputar saat Paskah, supaya kita ingat dengan Yesus, the real "Sin Eater", yang sudah menebus dosa umat manusia, dan yang nggak akan pernah bisa terganti oleh siapapun.

Saya lagi malas nulis, jadi kalau tertarik, coba cari DVD-nya saja yaaa...