![]() |
| Gambar: namebrandketchup.wordpress.com |
Saturday, January 19, 2013
Serendipity
Saturday, January 10, 2009
Stephenie Meyer, Bravo!
Ada beberapa hal yang saya simpulkan setelah menonton Twilight dan membaca dua buku lanjutannya, New Moon dan Eclipse.Satu, Stephenie Meyer punya daya imajinasi mengagumkan. Bravo!
Dua, dia pecinta cerita roman, paling nggak Romeo and Juliet dan Wuthering Heights. Dua cerita itu lumayan jadi inspirasinya di New Moon dan Eclipse.
Tiga, karakter Bella ternyata menyebalkan, jatuh cinta pada dua pria sekaligus. Tapi saya nggak menyalahkan Bella sih. Kalau saya jadi dia, saya juga bakal naksir vampir ganteng dan werewolf keren, Edward dan Jacob. Memosisikan diri sebagai Bella, kalau nggak bisa dapat keduanya, sepertinya saya bakal memilih Jacob. Mungkin ini menjelaskan kekecewaan saya karena tokoh Bella pada akhirnya lebih memilih Edward... :p
Empat, cerita ini jelas beda dengan cerita tentang makhluk penghisap darah yang pernah ada. Dan saya heran saja sih kenapa masih saja ada orang blo'on yang membanding-bandingkan Twilight dengan Bram Stolker's Dracula. Stephenie Meyer cukup kreatif menciptakan cerita vampir ala dia. Dan memang segmen pembaca yang diincarnya jelas: perempuan usia remaja, atau perempuan usia dewasa yang masih demen berkhayal. Sialnya, saya termasuk di kelompok kedua.
Lima, banyak yang bilang Edward di film nggak bisa merepresentasikan Edward di buku. Tapi terus terang, saya lebih suka Edward di film ketimbang yang di buku. Lebih masuk akal. Menurut saya, karakter Edward di buku terlalu baik, lempeng banget, seperti malaikat. Tapi, dari awal memang cerita ini nggak dimaksudkan sebagai cerita yang masuk akal, bukan?
Enam, saya yakin, banyak yang nonton Twilight lebih dari sekali. Terbukti, waktu saya nonton, sekelompok cewek di baris belakang saya—abege pastinya—terus mendesah tiap kali Edward bergerak. “Oooh... Aaah...” Please deh, annoying banget...

Tujuh, menurut saya, Robert Pattinson nggak cakep banget, ah! Tapi, saya akui ada angle tertentu yang bisa bikin tampangnya kelihatan cakep banget. Kalau saya amati, tampang kamerageniknya di sebelah kanan, deh. Terus terang, baca bukunya, di bayangan saya, tampang Edward lebih mirip Matt Dallas, bintang serial Kyle XY... :p (lihat foto di atas, cakep kan?)
Delapan, saya nggak sabar untuk menunggu terjemahan dari buku keempatnya, Breaking Dawn. Penasaran baca endingnya (meskipun sudah dapat sedikit bocoran dari teman saya, Maya).
Sembilan, saya harus tulis resensi bukunya untuk dipajang Ruang Resensi. Dengan catatan, tunggu saya agak nggak sibuk yaaa...
Gambar Twilight diambil dari photobucket.com
Gambar Matt Dallas diambil dari www.generiques-mag.com
Tuesday, December 09, 2008
Wisdom from Mr. Magorium
Film yang bagus harus punya good memorable quote. Paling nggak, itu menurut standar saya. Film When Harry Met Sally contoh film bagus pilihan saya. Psst, ini juga film kesukaan teman saya, si Emmet. Dia yang pertama kali maksa saya untuk nonton film ini, sampai minjamin VCD-nya untuk saya. Nggak sangka Emmet demen juga nonton film roman. Kirain cuma demen nonton Miyabi... :pIni memorable quote dari Harry Burns, waktu dia menyatakan cintanya ke sobatnya, Sally Albright.
"I love that you get cold when it's 71 degrees out. I love that it takes you an hour and a half to order a sandwich. I love that you get a little crinkle above your nose when you're looking at me like I'm nuts. I love that after I spend the day with you, I can still smell your perfume on my clothes. And I love that you are the last person I want to talk to before I go to sleep at night. And it's not because I'm lonely, and it's not because it's New Year's Eve. I came here tonight because when you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible."Tuh! Bagus, kan? Masih ada banyak film bagus pilihan saya. Tapi, ya nggak mungkin semua quote-nya saya posting ke blog. Nah, saya dapat satu lagi film bagus. Mr. Margorium's Wonder Emporium. Iya, filmnya memang sudah agak lama, tapi baru saya tonton barusan. Film itu biasa saja, menurut saya, awalnya. Tapi begitu saya dengar kalimat menggugah ini meluncur dari mulut Pak Edward Magorium, film itu langsung dapat tempat di hati saya. Cieh!
"Your life is an occasion. Rise to it."Waktu mendengar kata-kata itu, sepertinya Tuhan sendiri berbisik pada saya. Hihi! Kedengarannya agak berlebihan ya? Tapi ya memang saya suka melebih-lebihkan sesuatu, sih. Words of wisdom-nya Pak Magorium ini bikin saya mau mikir, kir, kir, bagaimana caranya living life to the fullest.
Sayangnya, otak saya lagi nggak nyampe untuk mikir dalam dan berat. Jawaban paling dahsyat yang bisa saya pikirkan cuma satu ini: living life to the fullest mesti dimulai dengan liburan menyenangkan. Momennya pas, kan? Desember, akhir tahun, liburan!
Gambar diambil dari www.starpulse.com
Tuesday, February 12, 2008
P.S. I Love You
“So now, alone or not, you’ve got to walk ahead. Thing to remember is if we’re all alone, then we’re all together in that too.”
Perasaan. Kehilangan. Sedih. Terpuruk. Lewat tokoh Holly (Hillary Swank), semuanya bisa digambarkan dengan jelas. Kematian Gerry (Gerard Butler), suaminya, di usia muda 35 tahun akibat tumor otak membuat hidupnya hancur.
Sejak hari itu, yang Holly tunggu hanya surat-surat dari Gerry yang sebenarnya dibuat oleh Gerry sebagai panduan untuk istrinya tercinta kembali ceria, menjadi dirinya sendiri, setelah kehilangannya. FYI, setiap
Thursday, November 08, 2007
The Last Sin Eater

Saya mau cerita nih. Kemarin saya nonton film "The Last Sin Eater". Saya pikir film ini mengisahkan dongeng atau asal-usul satu kepercayaan, ternyata lebih dalam. Menurut saya, film ini pas untuk diputar saat Paskah, supaya kita ingat dengan Yesus, the real "Sin Eater", yang sudah menebus dosa umat manusia, dan yang nggak akan pernah bisa terganti oleh siapapun.
Saya lagi malas nulis, jadi kalau tertarik, coba cari DVD-nya saja yaaa...
