Tuesday, October 08, 2013

Edo dan Cerebral Palsy

Gambar: medscape.com

Hari itu, hari pertama saya masuk sekolah sebagai murid SMU. Di tengah-tengah pelajaran, seorang murid masuk ke kelas. Dia datang terlambat, ditemani oleh ibunya. Guru kelas kami memperkenalkan anak itu di depan kelas. “Anak-anak, perkenalkan. Ini Edo, teman sekelas kalian.”

Saya, sama seperti teman-teman sekelas, memperhatikan Edo dengan seksama. Edo menggunakan alat bantu: tongkat dan sepasang sepatu khusus. Pembawaannya tidak seperti anak normal lainnya. Dia berbeda. Waktu itu, saya belum tahu apa yang membuat dia jadi berbeda.
Ada yang menyebut orang-orang seperti Edo, “cacat”. Ada pula yang menyebut mereka, “idiot”. Jahat ya... Saya nggak suka dengan sebutan itu, karena buktinya Edo bisa masuk ke sekolah yang sama dengan saya dan teman-teman saya yang “normal”.

Pada akhir semester pertama, Edo pamit. Mau ke Amerika untuk berlibur bersama keluarganya, katanya. Setelah libur akhir semester berakhir, dia kembali masuk sekolah. Dia membawa oleh-oleh untuk teman-teman sekelas. Saya mendapatkan sebuah emblem bergambar Apollo 11.


“Wah, Edo keren! Kamu main ke NASA, ya!” kata saya waktu itu. Hihihi.
Dulu, emblem itu saya simpan dan sayang-sayang. Emblem itu suvenir pertama yang saya dapat dari teman yang pergi ke luar negeri. Tapi, sekarang emblemnya sudah hilang. Sepertinya benda itu ikut hilang bersama komik-komik lama saya ketika keluarga saya pindahan rumah.

Sepulang dari Amerika, Edo masih sempat belajar bersama kami di sekolah. Tetapi, hanya sebentar. Suatu hari, dia—ditemani lagi oleh sang ibu—berpamitan. Mau pindah sekolah, katanya.

Guru kami bilang, “Edo tidak cocok belajar di sekolah kita. Dia membutuhkan sekolah khusus.”
Hanya itu yang saya ingat tentang Edo. Ingatan itu kembali setelah saya berkunjung ke Kitty Centre, sekolah khusus penyandang cerebral palsy (CP). Lokasinya di daerah Cinere, Lebak Bulus.
Cerebral palsy. Rupanya itu yang membuat Edo berbeda dari saya dan teman-temannya.
Setiap kali menginjakkan kaki ke Kitty Centre, sejak bulan Mei hingga September, saya selalu disambut suara riuh anak-anak. Ada yang menangis, ada yang berteriak-teriak, ada yang bernyanyi bersama teman, guru, orangtua, dan pengasuhnya. Suasan di sana memang tak pernah sepi.

Di sana, saya berkenalan dengan Ibu Sinto Rustini, seorang fisioterapis sekaligus pendiri sekolah itu. Dari beliau, saya mendapatkan banyak informasi mengenai CP. Dari kunjungan itu, saya jadi tahu bahwa tongkat yang digunakan oleh Edo bernama tongkat Canadian. Sepatu khusus yang dipakai Edo bernama AFO, singkatan dari ankle foot orthosis.

Saya rasa masih banyak orang yang tidak tahu tentang CP, terutama orang-orang yang awam dengan istilah kesehatan. Orang-orang seperti saya.

Selama 5 bulan bolak-balik ke Kitty Centre, saya banyak belajar mengenai CP. Hal ini bahkan sempat membuat saya takut untuk memiliki anak. Padahal, saya belum punya rencana untuk menikah, apalagi punya anak. :D

Pasti mengerikan kalau anak dengan CP. Yang saya bayangkan tentu saja bukan cuma kerepotan orangtuanya, tetapi juga masa depan sang anak.

Singkat cerita, CP adalah kerusakan susunan syaraf pusat yang terjadi pada masa pertumbuhan. Penyebabnya bisa terjadi selama proses kehamilan, dalam proses kelahiran, ataupun pascakelahiran.

Saat proses kehamilan, CP bisa terjadi karena janin terinfeksi oleh virus. Contohnya, virus Toxoplasma dan virus Herpes. Faktor kekurangan gizi dan konsumsi obat-obatan oleh ibu ketika hamil juga bisa memicu terjadinya CP ketika bayi dalam kandungan. Karena itulah, merencanakan kehamilan jadi hal yang amat penting bagi para calon orangtua.

Saya juga baru tahu bahwa proses persalinan yang lama dan sulit, atau persalinan menggunakan alat seperti vacuum, bisa memicu terjadinya CP. Bayi-bayi yang lahir prematur, berbobot kurang dari 2,5 kilogram, berwarna kuning, atau lahir tidak menangis pun berisiko tinggi menyandang CP.
Kalaupun bayi terlahir sehat, orangtua harus tetap siaga menjaganya selama masa pertumbuhan atau balita. CP juga dapat terjadi jika bayi pernah mengalami demam tinggi dan kejang-kejang. Bagaimana saya nggak stress mendapat informasi seperti itu?

Ah, betapa memiliki anak yang sehat itu anugerah yang luar biasa, ya...

Saya hanya berharap, semoga anak-anak seperti Edo bisa menemukan latihan dan terapi yang baik, sehingga mereka bisa mengurangi ketergantungan mereka pada orang lain ketika mereka dewasa nanti. Doa saya juga bagi para orangtua anak penyandang CP, agar mereka selalu sabar dan pantang putus asa.

Oiya, satu lagi informasi menarik menarik mengenai CP. Dari sisi kecerdasan, sebanyak 30% penyandang CP memiliki tingkat intelejensi yang sama dengan orang biasa. Sementara 70% sisanya memiliki intelejensi rendah, atau istilahnya, mengalami retardasi mental.

Di Kitty Centre, misalnya, saya bertemu dengan seorang penyandang CP, mahasiswi jurusan Antropologi, semester 4, yang kuliah di UI.

Kira-kira bagaimana kabar Edo sekarang, ya?

No comments: