![]() |
| Gambar: medscape.com |
Hari
itu, hari pertama saya masuk sekolah sebagai murid SMU. Di
tengah-tengah pelajaran, seorang murid masuk ke kelas. Dia datang
terlambat, ditemani oleh ibunya. Guru kelas kami memperkenalkan anak
itu di depan kelas. “Anak-anak, perkenalkan. Ini Edo, teman sekelas
kalian.”
Saya,
sama seperti teman-teman sekelas, memperhatikan Edo dengan seksama.
Edo menggunakan alat bantu: tongkat dan sepasang sepatu khusus.
Pembawaannya tidak seperti anak normal lainnya. Dia berbeda. Waktu
itu, saya belum tahu apa yang membuat dia jadi berbeda.
Ada
yang menyebut orang-orang seperti Edo, “cacat”. Ada pula yang
menyebut mereka, “idiot”. Jahat ya... Saya nggak suka dengan
sebutan itu, karena buktinya Edo bisa masuk ke sekolah yang sama
dengan saya dan teman-teman saya yang “normal”.
Pada
akhir semester pertama, Edo pamit. Mau ke Amerika untuk berlibur
bersama keluarganya, katanya. Setelah libur akhir semester berakhir,
dia kembali masuk sekolah. Dia membawa oleh-oleh untuk teman-teman
sekelas. Saya mendapatkan sebuah emblem bergambar Apollo 11.
