Sunday, March 09, 2008

Teknologi Bersih dan Hijau

Ini sudah lama berlalu. Duduk di satu kafe di sebuah mal di bilangan selatan Jakarta, seorang teman berseloroh, “Menurut gue, yang merusak bumi itu sebenarnya orang-orang yang bikin bisnis mal jadi subur, ya pengembang, ya pengunjungnya. Coba lihat penggunaan listrik di mal, berapa daya yang dipakai untuk bikin mal jadi terang benderang kaya gini, seharian penuh dari pagi sampai malam? Dan, jangan lupa hitung berapa jumlah mal di Jakarta!”

Mendengar komentarnya, saya jadi prihatin. Selain ngeri membayangkan daya yang digunakan untuk bikin terang satu mal, puluhan mal, ratusan, ribuan bahkan mungkin puluhan ribu mal di dunia; saya juga sadar bahwa saya termasuk pengunjung setia mal, orang yang bikin bisnis mal jadi subur.

Teman yang lain yang peduli dengan kesehatan bumi juga pernah berkomentar kesal, “Para pengembang gedung-gedung tinggi dan apartemen sadar nggak sih kalau mereka merusak bumi? Coba deh lo bayangin, berapa banyak air yang disedot dari tanah untuk dipakai sama penghuni dan pengguna gedung-gedung tinggi itu?”

Saya jawab begini, “Tapi kan air balik lagi kebuang ke tanah.”

Dan dia dengan cerdasnya menjawab, “Jeng, jumlah yang kembali diserap tanah kan nggak bisa sebanyak yang udah disedot dari tanah. Paling sedikit banget. Makanya permukaan tanah terus turun, kan…”

Saya cuma ngangguk-ngangguk menanggapi jawabannya. Cerdas.

Kamis lalu, saya bikin janji temu dengan dua sahabat saya di kawasan Thamrin. Perjalanan yang saya tempuh dari Ciputat menuju ke sana kurang lebih 3 jam, setara dengan perjalanan menuju Bandung lewat tol Cipularang, bikin saya mau ngamuk dan berkeluh kesah sepanjang perjalanan. Kali itu, bukan kemacetan di Pasar Ciputat yang bikin saya nggak sabar, tapi kemacetan di sepanjang rute Blok M–Sudirman. Kendaraan-kendaraan yang mewarnai jalan memang bervariasi, kebanyakan bagus, tapi banyak juga bus rongsok yang ngebulin asap hitam bau dan beracun, termasuk bus yang saya tumpangi. Saya pikir, rasanya satu hari tanpa polusi yang dicanangkan pemerintah satu kali setiap bulan percuma deh.

Sekarang, sebagai buntut dari keprihatinan saya, saya terkagum-kagum dengan para pelaku industri yang tengah sibuk memromosikan green technology alias clean technology—meski di balik itu semua mereka semua punya motif menggalang profit. Saya juga (cukup) bersyukur bahwa sekarang saya nggak lagi berurusan dengan media cetak yang harus diakui ikut bertanggung jawab atas berkurangnya jumlah pohon di dunia. (Kalau untuk bikin media yang bagus sih nggak masalah, tapi kalau media cetaknya nggak berbobot, bagaimana?)

Go internet, hybrid car, storage virtualization, solar power, green data center, biofuel jet, and recycling plastic bottles into clothing fibers! Go green, go clean, go!

Gambar diambil dari: aboutnwrealestate.com

2 comments:

bayus said...

go bike to work! :p

Ide Menulis said...

Ayo coba berapa pohon yang ada di dunia?