Thursday, November 06, 2008

Tentang Anak Kerang

Lemparan dari teman, lewat email. Saya posting buat teman-teman yang mungkin lagi nggak bersemangat, kecewa, merasa ditolak, atau terluka karena orang-orang di sekitar kalian. Quote of the day untuk kalian, yang (pastinya) juga lemparan dari teman, "Airmataku diperhitungkan Tuhan, dan penderitaanku akan mengubah diriku jadi mutiara berharga."

Dan cerita pun dimulai...


Pada suatu hari, seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya karena sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberi kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam."

"Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kamu perbuat," kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun menjalani nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Makin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit jadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal terbentuk dengan sempurna. Penderitaan anak kerang berubah menjadi mutiara. Air matanya berubah jadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

***

Katanya nih, cerita ini adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transdensial untuk mengubah "kerang biasa" jadi "kerang luar biasa". Yang pengin ditegaskan lewat cerita ini, kekecewaan dan penderitaan bisa mengubah "orang biasa" jadi "orang luar biasa". Kuncinya, tetap semangat. Jangan mau kalah oleh keadaan.

Yah teman-temanku, begitulah pelajaran untuk hari ini.

Gambar diambil dari www.magicreef.co.nz

3 comments:

Lucia said...

berakit-rakit ke hulu
berenang-renang ke tepian

bersakit-sakit dahulu
cantik kemudian

mungkin untuk si anak kerang cocok ama pantun itu kali ya..hehe

salam kenal^^

Toni said...

Jeng, "transdensial" maksudnya transendensial? sama-sama ada sial-nya, tapi beda arti.

Restituta Arjanti said...

yang bener transendensial, ton. hihi, kamu teliti juga. kalo cek di KBBI, transendental :D