Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Saturday, March 16, 2013

Life Goes On

Gambar: amazonaws.com

“And life goes on, which seems kind of strange and cruel when you're watching someone die.” ― Melina Marchetta, on the Jellicoe Road

Siang ini saya membaca status seorang kawan di Facebook, tentang kehilangan seorang temannya.

Kemarin, seorang kawan berduka karena ada anggota keluarganya yang meninggal. Di hari yang sama, sahabatnya sedang merayakan ulang tahun.

Sehari sebelumnya, tiga orang kenalan memasang status dan foto yang sama di BlackBerry Messenger mereka, yang menunjukkan mereka tengah berduka karena kehilangan seorang rekan kerja.

Kebetulan ada seorang sahabat saya bekerja di gedung perkantoran yang sama dengan mereka. Saya tanya, apa ada yang baru meninggal di kantor mereka?

"Iya, anak lantai bawah, meninggal karena kecelakaan. Satu lantai lagi berkabung sekarang," jawab sahabat saya. 

Obrolan kami berlanjut. Sahabat saya bercerita, sedang ada perayaan di kantornya saat itu. Pikir saya, kontras sekali suasana di kedua lantai itu. Sementara satu lantai sedang berduka, lantai lainnya sedang merayakan sesuatu.

Untuk alasan yang berbeda, ada yang berduka, ada juga yang berbahagia. 

Tuesday, January 22, 2013

It Is Fun, Talking to Stranger

Gambar: www.avisamkaplan.com

Being among a crowd of stranger is a good therapy to realize that we have nothing to worry about.


Sejak kecil kita diajarkan untuk nggak bicara dengan orang asing, sembarang orang yang kita temui di jalan. Hal positif dari ajaran itu adalah kita jadi lebih berhati-hati. Tetapi, ada juga sisi negatifnya. Kita bisa jadi parno, terlalu khawatir dan curiga terhadap orang lain.

Ketika memasuki lingkungan baru, bertemu dengan orang-orang baru, kita jadi merasa insecure. Dulu, saya juga sering merasa nggak nyaman bertemu dengan orang-orang baru, apa lagi jika mereka punya latar belakang bidang yang berbeda dengan saya. Tetapi saya pikir, saya pikir dan pikir lagi, buat apa saya merasa nggak nyaman dengan mereka ya? Mereka juga kan manusia, sama-sama ciptaan Tuhan.

Sekarang, saya justru menikmati bisa bertemu dengan orang-orang baru. Sebenarnya, ketika kita bertemu dengan orang asing, apa lagi yang menggeluti bidang yang berbeda dengan kita, justru kita bisa melonggarkan diri kita.

Bertemu dan ngobrol dengan orang asing, bahkan random stranger sekalipun, banyak asyiknya. Ada beberapa alasannya, menurut saya. 

Saturday, January 19, 2013

Serendipity

Gambar: namebrandketchup.wordpress.com

“Cara kerja alam semesta itu luar biasa, ya!” Entah berapa kali, dan berapa orang kawan pernah mendengar saya mengucapkan kalimat ini. Semoga mereka nggak bosan mendengar itu. Hahaha.

Pernah mendengar istilah “serendipity”? Serendipity adalah kebetulan atau kejutan yang menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita. Misalnya, kita bertemu dengan seseorang yang kita pikirkan, tanpa kita berusaha untuk mencarinya. Atau, kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tanpa kita berusaha mendapatkannya.

Nah, saya percaya dengan serendipity. Menurut saya, serendipity berhubungan dengan faktor luck dan law of attraction. Makanya saya sangat kagum dengan cara kerja alam semesta.

Posting kali ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya, Keep Your Dream Alive. Kenapa saya pengin banget menulis soal serendipity? Karena saya sering sekali mengalaminya. Yah, setidaknya menurut perasaan saya. Contohnya? 

Sunday, December 16, 2012

Keep Your Dream Alive



Cerita ini terjadi pada bulan Mei 2009. Saya dan kawan saya, Fani, pergi melakukan perjalanan ziarek (ziarah rekreasi) bersama teman-teman baru yang kebanyakan lebih senior dari kami.

Pada suatu malam, kami duduk bersama untuk sharing. Ada yang melempar pertanyaan ini. “Apa harapan kalian yang belum kesampaian?”

Teman-teman baru kami serempak menjawab, “Menemukan SOUL MATE dan MENIKAH!” Sementara saya dan Fani berteriak, “Pergi ke ROMA dan keliling EROPA!!!!”

Saya bisa mendengar suara saya sendiri saking nyaringnya. Saya bisa melihat kawan-kawan baru itu melempar pandangan ke arah saya dan Fani. Saya dan Fani saling bertukar pandang, lalu terkikik.

Malam harinya, menjelang tidur, saya bicara ke Fani. “Psstt, ini acara apa sebetulnya ya?”

“Ziarek dengan harapan berbonus jodoh mungkin, Jeng...,” jawab Fani.

“Harapannya semua pengin menikah.”

“Mungkin mereka semua sudah pernah ke Roma dan keliling Eropa...”

“Iya. Mudah-mudahan harapan kita semuanya bisa terwujud ya...”

“Amin.”

Saturday, December 15, 2012

Bekerja dengan Senyum



Hai, siapa yang lagi merasa punya pekerjaan paling payah sedunia, merasa dirinya malang, dizolimi, atau diremehkan karena pekerjaan itu? Kalau ada, jangan merasa begitu lagi ya.

Pernah nggak kalian bayangkan pekerjaan para petugas cleaning service yang setiap hari harus berjaga di toilet, dan membersihkan bekas-bekas kotoran banyak orang? Bisa nggak kalian memposisikan diri kalian sebagai mereka?

Di suatu Jumat sore, saya main ke mal kesayangan saya di Pondok Indah. Namanya juga cewek, kalau ke mal untuk main, pasti waktunya nggak singkat dan pasti mampir ke toilet!

Menjelang akhir pekan, mal selalu ramai pengunjung. Begitu juga toiletnya. Saya antre di depan salah satu pintu toilet. Nggak lama, seorang ibu keluar. Seperti biasa, saya intip sebentar toiletnya untuk melihat bersih atau nggak. Ternyata belepotan, ih. Saya jadi ragu untuk masuk. 

Friday, October 26, 2012

Ultreia!

Walk on, walk further.

The walk is the destination, not Santiago. 
Life is the destination. Now is the destination.
 Live now. (www.walkingwithawareness.com)

Saya senang sekali waktu pertama kali membaca resensi buku “Startup, Indonesia!” di Kompas.com. Membacanya, duh, saya terharu. Sahabat saya, Toni, men-share resensi tersebut ke halaman Facebook-nya. Ada satu pesan yang dia tulis untuk saya, “Ultreia!”

Satu kata ini membawa saya pada kenangan 2,5 tahun silam, ketika saya, Toni, dan dua sahabat kami, Agnes dan Astrid, melakukan perjalanan ziarah menuju Santiago de Compostela. Camino de Santiago.

Ultreia! Satu kata ini menjadi penyemangat kami ketika kami harus berjalan kaki selama lima hari penuh di daratan Spanyol. Kaki kami bengkak, terkilir, memar-memar, melepuh, kulitnya mengelupas, juga berdarah karena perjalanan ini.

Wednesday, October 10, 2012

AMDG: Ad Maiorem Dei Gloriam

Seorang kawan kerap menulis singkatan “AMDG” di status media sosialnya. Saya jadi penasaran.

Setelah penelusuran singkat di internet, saya pun tahu apa itu AMDG. AMDG adalah singkatan dari Ad Maiorem Dei Gloriam, istilah Latin yang dalam bahasa Inggris berarti “for the greater glory of God”. Istilah itu digunakan sebagai motto dari Serikat Jesuit yang didirikan oleh St. Ignatius Loyola.

Kalimat itu menarik perhatian saya. Motto “for the greater glory of God” ini bukan hanya pas sebagai pegangan orang-orang yang menjalankan tugas misionaris. Semangat AMDG ini menurut saya bagus untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Eh, posting kali ini agak serius ya. :-)

Ini lamunan saya di suatu sore, dalam perjalanan macet menuju ke rumah. Dalam sehari, kita punya waktu 24 jam. Dalam seminggu, kita bekerja 5 hari. Kalau kebanyakan pekerja di Jakarta tinggal di daerah pinggiran kota—Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi—rata-rata waktu yang mereka habiskan dalam perjalanan pulang-pergi bisa sekitar 4-5 jam.

Wednesday, July 04, 2012

Let's Not Too Worry About Numbers

“Never worry about numbers. Help one person at a time and always start with the person nearest you.” — Mother Teresa

Semakin dewasa kita, semakin banyak kebutuhan yang harus kita penuhi dan akan semakin pusing kita menyusun neraca keuangan. Ih, betul banget itu. Belakangan ini, topik pembicaraan saya dengan para sahabat berputar di soal angka: investasi, tabungan, dana darurat, biaya operasional rumah tangga, cicilan-cicilan, dan yang paling bikin sesak—harga-harga kebutuhan pokok yang kian melambung.

Sunday, November 27, 2011

Perantau


Apakah Anda sadar bahwa kita sebenarnya perantau di dunia ini? Rumah kita adalah di surga, di mana Tuhan sedang menyiapkannya bagi kita. Namun, banyak orang saat ini melupakan bahwa diri mereka adalah perantau sehingga yang mereka sibukkan adalah mengumpulkan harta di dunia ini. Padahal, pada akhirnya semua harta dunia itu tidak dapat mereka bawa ketika tiba saat untuk pulang ke rumah Bapa di surga.

Jangan lupakan bahwa kita adalah perantau di dunia. Gunakanlah harta duniawi kita untuk menghasilkan kekayaan surgawi.

Cuplikan renungan ini diambil dari sini. Gambarnya diambil dari sini.

Wednesday, July 20, 2011

Kematian

Kematian. Sesiap apapun kita menyambutnya, tak pernah cukup kuat kita menghadapinya. Rasanya seperti mimpi, bagi orang-orang yang ditinggalkan. Yang dapat menghibur hanyalah doa dan keyakinan bahwa jiwa yang telah pergi itu kembali kepada Sang Penciptanya, yang jauh lebih mengasihinya ketimbang siapapun di dunia ini.

Sunday, June 12, 2011

Tuesday, November 30, 2010

Ketika Masalah Datang


Ketika masalah datang dan sepertinya tidak ada jalan keluar penyelesaiannya, aku datang menghadap-Nya dan duduk dibawah kaki-Nya.

Monday, November 15, 2010

Do You Love Your Job?


Wah, akhir tahun semakin dekat. Sudah siap bikin resolusi baru, target-target untuk 2011? Jangan lupa evaluasi resolusi 2010-nya, ya. Kalau buat saya, tahun ini lumayan menyenangkan dong, meskipun bulan-bulan terakhir ini terasa lumayan berat. :)

BTW, ada yang jenuh dengan pekerjaannya, nggak? Muak dengan tugas-tugas yang bikin kalian seolah nggak punya kehidupan sosial, atau harus bekerja seperti robot sampai nggak punya waktu untuk belajar lagi? Semoga nggak ada, ya. Kalau iya, pasti nyebelin banget... -_-”

Kalau ada yang sedang bimbang dengan pekerjaannya, mungkin beberapa pertanyaan ini bisa jadi acuan untuk menentukan, “should I keep my job or not?”

Wednesday, June 16, 2010

7 Golden Rules Of Life

Beberapa minggu lalu, seorang teman baik memposting "7 Golden Rules Of Life" di wall Facebook-nya, satu per satu setiap hari. Diam-diam, saya ikuti update wall-nya setiap hari. Lumayan, untuk memberi pencerahan. So, these are the 7 Golden Rules Of Life:

1st,
Don't let someone become a priority in your life, when you are just an option in their life. Relationships work best when they are balanced.

Thursday, June 10, 2010

A company’s key to success is in its heart and soul


Few days ago, I attended a meeting. The meeting talked about how to build a winning cultures in the company. The presentation was taken and compiled from some sources. One of them was from the book "Building a  Winning Culture" which was published by Bain & Company. I just want to share some small parts of it with you, here in my blog.

The book said that winning cultures combine two elements: the high performance values and behavior, and unique personality and soul. Who we are or what we value is defined by some key attributes, as you can see in the image above. All attributes are linked to the success of the company.

Monday, April 26, 2010

The Choice I (Finally) Took


We had joy we had fun we had
Seasons in the sun
But the hills that we climbed were
Just seasons out of time


We had joy we had fun we had
Seasons in the sun
But the wine and the songs like the
Seasons have all gone


***

I took the lyrics from a song I really like, Seasons in the Sun. The song was created by both singer and song writer Jacques Brel with the original tittle Le Moribond. The song itself had been adapted into English and sung by several singers, including Terry Jacks and boyband Westlife.

Friday, December 25, 2009

Merry Christmas, Everyone!


لأَنَّهُ هكَذَا أَحَبَّ اللهُ الْعَالَمَ حَتَّى بَذَلَ ابْنَهُ الْوَحِيدَ، لِكَيْ لاَ يَهْلِكَ كُلُّ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ، بَلْ تَكُونُ لَهُ الْحَيَاةُ الأَبَدِيَّةُ

For God so loved the world that He gave His one and only Son, that whoever believes in Him shall not perish but have eternal life. (John 3:16)

Sunday, November 01, 2009

Penyakitnya Cuma Mampir


Sabtu (31/10) kemarin, saya dan beberapa kawan pergi mengunjungi RS Kanker Dharmais. Di sana, kami bikin acara nonton bareng anak-anak yang dirawat di sana. Film yang kami pilih adalah Garuda di Dadaku. Terus terang, itu adalah kali pertama saya mengunjungi RS tersebut.

Bagaimana perasaan saya? Terharu pastinya, melihat mereka punya semangat juang yang tinggi, meskipun penyakit jahat menggerogoti tubuh mereka. Dari seorang kawan yang adiknya dirawat di sana, saya tahu bahwa kebanyakan anak yang kami temui kemarin menderita kanker darah alias leukimia. Tapi, ada juga yang menderita kanker tulang, kanker mata, dan kanker usus.

Saturday, January 17, 2009

Semoga Esok Lebih Baik!

buka matamu, buka telinga, dan coba rasakan dunia, hidup tak akan tanpa cobaan.

bersenanglah di hari ini,
karena esok masih misteri. bersenanglah di malam ini, semoga esok lebih baik!
[Hari Ini Kau yang Punya, Drive]

Situs social networking memang sakti. Saya bisa bertemu lagi dengan teman-teman lama saya di internet, update kabar terbaru tentang mereka lewat internet. Salah satu teman yang nggak sengaja saya temukan lewat internet adalah teman SMP saya, si A.

Sedikit tentang si A. Dia jadi jagoan Fisika di angkatan kami. Selama 3 tahun kami duduk di kelas yang sama. Pernah juga kami duduk semeja. Tapi karena anaknya pendiam, nggak banyak hal yang saya tau tentang dia. Yang saya ingat cuma ini: dia kidal dan menulis pakai penggaris.

Beberapa kali kami berkirim email, bertanya kabar dan bergosip tentang teman-teman lama. Email terakhirnya bikin hati saya mencelos. "Yang lain (teman-teman kami) nasibnya ada beberapa yang kurang beruntung," tulisnya.

Kawan kami, si Y, sekarang jadi preman. Y itu bule Indo-Belanda, 12 tahun yang lalu badannya masih mungil. Anaknya baik dan lugu. Teman yang lain, YB, sekarang jadi satpam di sebuah showroom mobile di daerah Jakarta Barat. Yang lain, DF sekarang jadi petinju. Karena himpitan ekonomi, DF harus keluar dari SMA. Jaman SMP dulu, DF ini hobi main wrestling bareng teman-teman saya laki-laki.

"Sekarang DF jadi petinju. Masak kamu nggak tau? Adiknya meninggal. Coba baca di sini," kata A. Si A sendiri sekarang jadi guru di salah satu sekolah di Jakarta.

Tentu saja nggak semua teman kami nggak beruntung. Banyak juga yang bisa hidup senang. Si F sudah jadi karyawan perusahaan multinasional, punya rumah, dan investasi apartemen. Si E jadi model. Si H menikah dan (sepertinya) hidup berkecukupan. Si AS, yang dulu langganan nggak naik kelas, punya bisnis restoran yang lumayan. Saya kira, saya bisa masuk dalam kelompok beruntung.

Hari esok siapa yang sangka? Mundur ke 12 tahun yang lalu, yang saya lihat adalah wajah-wajah bahagia tanpa beban. Sekarang, kalau saya bertemu dengan teman-teman lama saya, di jalan misalnya, belum tentu saya mengenali mereka.

Untuk teman-teman yang masih bisa tertawa hari ini...

bersenanglah di hari ini, karena esok masih misteri.
bersenanglah di malam ini,
semoga esok lebih baik!

Gambar diambil dari flickr.com