Monday, January 26, 2009

Selamat Jalan, Teman Baik...

"Jeng, siap untuk dengar berita yang paling buruk ya?" Hati saya mencelos menerima telpon dari Siska, kawan saya, Jumat (23/1), jam 10.00.

"Iya." Saya sudah bisa menebak apa kabar yang akan dia sampaikan.

"Mas Lendy meninggal."

"Kalau sudah ada info tentang kapan jenasahnya mau dibawa ke Malang, juga kapan pemakamannya, tolong kabarin ya Sis." Siska ini istri dari saudara sepupu Pak Lendy, Mas Teddy.

Satu jam sebelumnya, saya menerima SMS dari Siska. Isinya kabar tentang memburuknya kondisi Pak Lendy. Tekanan darahnya sudah nggak terekam alat.

Seminggu sebelumnya, saya dapat kabar bahwa kawan saya itu mengalami kecelakaan saat sedang berlibur di Bandung. Tubuhnya, 80-90 persen, gosong terbakar. Ceritanya bisa dibaca di sini.

Percakapan terakhir saya dengan Pak Lendy, via YM, tanggal 30 Desember lalu, pagi dini hari. Seperti biasa, cuma beliau satu-satunya kawan saya yang hobi online subuh-subuh.

Yang kami bahas waktu itu, East Java Trip, program keliling Jawa Timur yang kami rancang sejak Oktober 2008, yang seharusnya kami eksekusi paling lambat Maret 2009 besok. Seperti biasa, sayalah yang selalu punya alasan untuk menunda perjalanan itu. Dan sekarang, saya menyesal.

Sekarang, nggak ada lagi kawan yang menyapa saya di YM pagi-pagi subuh dengan sapaan khas, "Ajenkkk.. where r uu??"

Pak Lendy yang saya tau adalah seorang penulis, fotografer, praktisi TI gaul yang lebih banyak bergerak di belakang layar. He was very low profile, sayang keluarga, nggak haus publikasi, juga nggak pelit ilmu. Bagi saya, Pak Lendy ini adalah mentor, motivator, dan kotak curhat yang humoris. Dia bukan teman biasa, dia teman baik saya.

Saya yakin, banyak orang punya pikiran yang sama dengan saya. Lendy Widayana adalah teman baik banyak orang. Dia suka membantu dan nggak pernah bikin orang lain susah. Saya yakin, keluarga yang ditinggalkannya--Mbak Dona, istrinya, dan Mayanda, putra tunggalnya--akan selalu dilindungi Tuhan lewat tangan orang-orang yang sudah dibantu oleh Pak Lendy.

Pak Lendy, maaf saya cuma bisa melepas kepergian Bapak sampai di Rumah Duka RS. Santo Borromeus, Bandung. Saya akan nyekar ke makam Bapak sekalian waktu saya jalan-jalan keliling Jawa Timur. Tenang saja Bos, I will never let my memories of you disappear...

Saya bayangkan, apa kata malaikat yang menjemputnya untuk kembali ke Rumah Bapa pagi itu. "Good man, this is the end of your journey in this world. God will be glad to have you back at Home."

Saya pilih satu lagu yang menurut saya paling pas untuk melepas kepergian Pak Lendy Widayana, The Spirit Carries On, by Dream Theater.

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say "Life is too short"
"The here and the now"
And "You're only given one shot"
But could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we've got?

If I die tomorrow
I'd be alright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I'm not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I'd be alright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on

"Move on, be brave
Don't weep at my grave
Because I'm no longer here
But please never let
Your memories of me disappear"

Gambar diambil dari flickr.com

7 comments:

epi said...

meski aku tdk mengenal pak Lendy sebaik kamu, aku sangat yakin dia memang seperti yang kamu diskripsikan: orang baik.

Selamat jalan Pak Lendy, semoga tenang di alam sana.

*)tulisannya bagus, Jeng. Lagunya jg pas. Aku baca liriknya sambil menyanyikannya. Aku suka lagu itu :)

Anonymous said...

Mbak, kita rekan senasib dalam arti sangat kehilangan Pak Lendy. 13 years of togetherness must be ended like this but I have to realize this is how his end because God loves him so much. Masih banyak jejak langkah beliau yang akan diteruskan, dikenang dan dikembangkan oleh sekian ratus atau ribu anak didik beliau. Thank you Mbak, for the nice writing on your blog, I only can give him my tribute through the poem on my Friendster.

Regards,
Rezi.
*used to live in Malang, Surabaya then Jakarta now.

ria said...

ajeng....

gue turut berduka yg sangat dalam....
klu gue gag salah, dia org yg kamu ceritain sm kita kmren kan yaa? :(

sumpah! gue mirisss bgt baca lirik lagu di atas.........

Restituta Arjanti said...

@Epi: iya, lagunya emang asik. liriknya cerdas. dan menurutku, memang paling pas untuk melepas Pak Lendy.

@Rezi: salam kenal, mas. sayang banget Mas Rezi nggak ninggalin kontak (email, alamat email, atau blog FS).

@Ria: thank you, Ria... :)

Dyna said...

Ajeeennnnkkkk qqq.....
Tiba-tiba aja hari ini (dari tadi pagi bangun tidur) aq kangeeennnn berat sama hubby. Browsing browsing nemu blog dirimu ini dear.....

Dyna said...

Jangan salah... DYNA itu singkatan lenDY dan donNA....

Anonymous said...

Hai Mbak.. aku Rezi (female) yg hampir 5 thn lalu komen disini jg.
Hampir 5 thn dan Januari selalu membuatku mengenang beliau. let the spirit carries on :)
emailku: rezina_nahdiah@yahoo.com