Friday, January 15, 2010

Tong Curhat

Muka saya kayak "tong curhat", mungkin ya? Perasaan, banyak banget orang yang demen curhat sama saya. Nggak harus kawan dekat deh, orang yang baru satu kali ketemu saya di jalan saja bisa curhat ke saya.

Jadi terpikir, kenapa dulu saya nggak kuliah Psikologi saja...

***

Semalam saya ketemu seorang teman lama di dalam bus Transjakarta. Ternyata dia naik dari halte yang sama dengan saya, dan ternyata pula kantornya dekat kantor saya.

Obrolan dimulai dari basa-basi macam, "Eh, kantorlo di mana? Uda lama kerja di sana? Suka ketemu sama teman-teman sekolah, nggak?"

Nah, obrolan standar itu berlanjut ke pertanyaan standar lain, "Jeng, lo uda nikah?"

Saya jawab, "Belom. Lo sendiri, gimana?"

Tuh kan, obrolan standar overtwenty deh... Tapi, dari situlah curhat kawan saya dimulai.

"Gue belom nikah. Dulu hampir nikah, dua kali."

"Ooooo.....," cuma itu komentar saya. Gimana ya? Saya nggak suka nanya-nanya soal pribadi ke orang lain, karena saya juga nggak suka ditanya-tanya soal pribadi sama orang lain, apalagi yang memang nggak dekat dengan saya.

Dan curhatnya pun berlanjut. "Iya, dulu bla bla bla bla... Ya, maklum ya, namanya anak muda, waktu itu gue umur 24, bla bla bla..."

"Ooooo.....," lagi-lagi respons itu keluar dari mulut saya. "Terus, yang kedua?"

"Nah, yang kedua, bla bla bla bla... Umur gue 27, bla bla bla, ... ya uda tiba-tiba gue sama cewek gue nggak kontak-kontakan lagi deh..."

"I see.... Kalo uda dua kali batal nikah, sekarang uda nggak kebelet nikah lagi dong." Hihi, itu respons maksimal yang bisa saya lontarkan.

***

Sekarang cerita lain, masih di dalam bus Transjakarta. Karena kondisi bus yang penuh, saya berdiri, bersebelahan dengan seorang ibu. Wajahnya masih muda. Karena wajahnya ramah, saya mau senyum padanya. Si ibu membalas tersenyum.

"Berangkat kerja, mbak?" tanya si ibu.

"Iya, mbak," jawab saya. Saya panggil dia "mbak" karena wajahnya masih kelihatan muda.

Obrolan pun mengalir. Saya jadi tahu bahwa si ibu itu janda beranak tiga. Suaminya baru saja meninggal karena kecelakaan motor, beberapa hari setelah anak kembarnya lahir. Anak pertamanya sudah SMP. Si kembar terpaksa dipisah--satu dirawat oleh adik si ibu--karena si ibu nggak sanggup membiayai dua anak bayi. Selama si ibu itu bekerja, anak bayinya dititipkan pada neneknya.

Biasanya, si ibu pergi ke kantor boncengan dengan suaminya atau membawa motor sendiri. Tapi sejak suaminya meninggal, si ibu masih trauma. Dia pun memilih pergi ke kantor naik bus.

"Sebenernya, ibu saya ngijinin saya untuk nikah lagi. Tapi saya malu. Anak pertama saya kan uda gede...," si ibu masih berkisah. Saya nggak heran sih kalau ibu ini banyak yang naksir. Wajahnya cantik, umurnya juga kelihatan masih muda--paling 30an tahun. Saya yakin deh, dulu dia menikah muda.

Oiya, jangan tanya bagaimana reaksi saya menerima info sebanyak itu dari orang yang baru saya ajak senyum, ya ... Saya harap semoga ibu itu bahagia. Saya sudah nggak pernah bertemu dia di bus.

***

FYI, dua cerita di atas baru sedikit dari curhat yang pernah saya telan. Oiya, saya nggak pernah merasa terganggu menerima curhat "nggak biasa" seperti curhat kawan lama dan si ibu itu. Saya malah suka, karena curhat itu bikin saya tau ternyata hidup itu memang berkelir... :)

Tapi, ada jenis curhat yang saya hindari. Curhat negatif. Menurut saya, energi negatif lebih kuat daripada energi positif. Jadi curhatan model keluhan atau memaki-maki orang mending saya hindari deh.

Btw, Glenn Fredly mau berhenti nyanyi, ya? *sambil dengerin infotainment, nih* :p

Gambar diambil dari sini.

No comments: