Friday, December 20, 2013

Di Chiang Rai, Ke Mana Saja?

Saya dan wanita dari Suku Long-Neck Karen di Chiang Rai.

Saya mau lanjutkan cerita perjalanan saya dan 2 teman ke Thailand bulan November lalu, ya. Sebelum berangkat ke Chiang Mai, kami sudah sempat browsing tentang objek-objek wisata yang bisa dikunjungi di sana. Selain tempat-tempat yang sudah saya sebutkan di sini, masih ada Elephant Camp, White Temple, The Golden Triangle, dan Long-Neck Karen Hilltribe Village. Lokasi keempat objek wisata itu ada di Chiang Rai, atau sekitar 3 jam perjalanan dengan mobil dari Chiang Mai.

Karena lokasinya cukup jauh dan kami hanya menetap di Chiang Mai selama 2 hari 2 malam, maka harus ada objek wisata wisata yang harus kami korbankan. Yang dikorbankan ya jelas Elephant Camp, dong. Di Indonesia kan sudah ada banyak gajah. :D

Akhirnya, kami mengambil paket wisata satu hari ke 4 lokasi: Hot Spring Chiang Rai, White Temple, Golden Triangle, dan Long-Neck Karen Hilltribe Village. Harga paketnya, total 1.600 baht. Lumayan juga sih, dengan nilai tukar Rupiah yang lagi letoy seperti sekarang ini... 

Jam 7.30 pagi, kami dijemput oleh mobil travel. Objek wisata terjauh, Long-Neck Karen Hilltribe Village, jadi tujuan terakhir. Total lama perjalanan menuju ke sana dari Chiang Mai adalah 3 jam. Sambil menuju ke sana, kami lewat dan singgah ke 3 objek lainnya.

Hot Spring Chiang Rai

Seuprit sumber mata air panas di Hot Spring Chiang Rai.

Untuk orang-orang yang pernah ke Ciater, hot spring yang satu ini biasa banget. Cemen malahan. Menurut saya, tempat ini cuma sekadar “tourist trap”. Bisa saja nih, pihak travel “menjual” objek sumber mata air panas yang seuprit macam Hot Spring Chiang Rai ini. Ya, tapi kita jadi tahulah ya... Lagi pula, tempat ini toh memang harus kami singgahi untuk membeli sarapan dan minum kopi. (-_-)

Jadi, apa yang ada di sini? Selain sumber air panas yang seuprit ini, di sini ada tempat-tempat makan dan toilet umum. Hihihi. Saran saya, jangan beli makanan atau roti-rotian ala Western, karena mahal dan nggak enak. Lebih baik beli makanan lokal macam bakpao atau nasi goreng, atau prasmanan yang ada di sana. Untuk teman-teman yang kuatir dengan kehalalan makanan-makanan di sana, saya sarankan lebih baik beli roti atau snack di Sevel dekat penginapan, di malam sebelumnya saja, sih.

Kami hanya 20 menit mampir di hot spring, lalu melanjutkan perjalanan ke White Temple.

White Temple

White Temple yang cantik dan megah, dengan detail yang kompleks.

Keren! Ini kesan pertama saya begitu melihat White Temple, atau yang dalam Bahasa Thailand disebut “Wat Rong Khun”. White Temple adalah salah satu kuil Buddha paling terkenal di Chiang Rai.

Kuil bergaya kontemporer ini dirancang oleh seorang seniman Thailand, Chalermchai Kositpipat. Pembangunannya dimulai pada tahun 1997, dan sampai sekarang belum selesai. Meskipun begitu, sudah ada 3 bagian kuil yang sudah selesai pembangunannya.

Konsep kuil ini sangat menarik. Chalermchai mengangkat konsep kehidupan manusia untuk kuilnya ini—dimulai dari kehidupan manusia di dunia, masuk ke alam kematian, hingga akhirnya masuk ke neraka atau surga.

Tangan-tangan dari jiwa yang (ceritanya) berada di neraka, memohon pengampunan dari Dewa.



Kuil yang dibangun di lokasi yang luas ini sangat cantik, megah, penuh dengan detail yang kompleks, dan diselimuti warna putih! Pengunjung hanya bisa masuk dari 1 pintu, dan keluar dari 1 pintu yang lain. Jadi, jika sudah masuk ke dalam kuil, maka pengunjung nggak bisa mundur lagi dan harus meneruskan masuk ke dalam sampai selesai.

Minuman keras adalah medium yang digunakan oleh Iblis. Kira-kira, itulah pesan yang ingin disampaikan melalui patung ini.

Di bagian dalam kuil, selain bisa melihat simbol-simbol Buddhisme dan patung Buddha yang besar, pengunjung juga bisa melihat lukisan mural yang nyeleneh dan keluar dari pakem Buddhisme klasik. Lukisan itu—yang sayangnya dilarang untuk difoto—digelar di seluruh dinding ruangan.

Lukisan itu menggambarkan kekuatan-kekuatan baik dan jahat yang ada di dunia dan alam baka. Ada para superhero dan tokoh-tokoh baik, ada pula karakter-karakter jahat yang kita kenal dari cerita film atau komik. Contohnya, Superman, Batman, Spiderman, Neo (The Matrix), Harry Potter, Doraemon, dan Kungfu Panda. Ada pula Freddy Krueger, Michael Jackson, Terminator, Elvis Presley, serta karakter-karakter dalam Star Wars, Transformers, dan Avatar. Kuil Buddha yang satu ini unik, kan?

Dari yang saya tangkap, sepertinya sang artist ingin menyampaikan bahwa ada kekuatan-kekuatan jahat dan baik di muka bumi, dan kita bisa memilih ingin mengikuti yang mana, ingin menjadi yang mana—jadi superhero yang berguna bagi banyak orang, jadi orang yang baik, atau jadi yang jahat?

Oiya, satu lagi yang menarik dari White Temple adalah toiletnya yang bagus banget. Seluruh bangunan toilet disepuh warna emas, dan detail bangunannya nggak kalah rumit dari bangunan kuil. :D

Golden Triangle




Dari White Temple, kami menuju ke Golden Triangle. Untuk sampai di daerah ini, kami harus menyeberangi Sungai Mekong. Harga tiket kapalnya 300 baht—sudah termasuk dalam paket yang kami bayar. Perjalanan dengan kapal ini nggak terlalu lama. Kita bisa melihat dari jauh pemandangan di sepanjang jalur sungai yang dilewati, termasuk No Man's Island dan Kings Roman Casino di Laos.



Golden Triangle adalah perbatasan antara 3 negara: Thailand, Laos, dan Myanmar. Aslinya, daerah ini dikenal sebagai ladang opium terbesar di Asia, dan nomor 2 di dunia, setelah Golden Crescent di Afghanistan.

Sekarang, daerah ini menjadi daerah bisnis di perbatasan ketiga negara itu. Di sini, banyak banget yang menjual tas-tas kulit kelas KW. Hal aneh apa yang terkenal dan ada di sini? Snake whiskey dan animal whiskey!

Snake & animal whiskey, dikatakan bisa menambah kekuatan dan vitalitas seseorang.

Seperi namanya, whiskey ini dicampur dengan ular atau binatang-binatang lainnya di dalam botol. Ada ular, cobra, kalajengking, dan kadal besar—semuanya dalam bentuk utuh. Katanya, minuman keras ini bisa jadi obat kuat untuk orang yang meminumnya.

Saya nggak berani mencoba, dong. Selain geli melihat binatang-binatang yang dicampur di dalam botolnya, saya kuatir tipsy. Apalagi perjalanan setelah dari Golden Triangle masih cukup panjang, ke desa Suku “Leher Panjang” Karen.

Long-Neck Karen Hilltribe Village

Gerbang desa Suku Karen, melambangkan bahwa warga desa ini dipimpin oleh seorang laki-laki yang kuat.

Aslinya, Suku Long-Neck Karen di Chiang Rai, Thailand, berasal dari Myanmar. Menurut catatan dari Museum of Karen History and Culture, Suku Karen bermigrasi ke utara Thailand dari Myanmar (Burma) pada abad ke-17.



Suku Karen termasuk salah satu suku “leher panjang” yang mau membuka diri terhadap para pengunjung. Di desanya, mereka hidup tanpa penerangan listrik dan mencari nafkah dengan bertani dan menjual berbagai kerajinan tangan. Mereka juga mendapatkan penghasilan dari penjualan tiket masuk ke desa mereka.

Hanya kaum wanita dari suku ini yang wajib mengenakan ring di leher mereka. Mereka juga menggunakan ring di kakinya. Wanita yang berfoto dengan saya di atas tadi, berusia 51 tahun dan menggunakan 31 ring di lehernya.

Ring itu nggak ringan lho. Menurut guide yang menemani kami, ring itu sebenarnya bukan membuat leher mereka menjadi panjang. Tetapi, leher mereka menjadi panjang karena ring itu membuat pundak mereka turun.

Gadis paling cantik di Suku Karen saat ini, menurut guide kami.

Karena desa ini merupakan desa wisata, jadi kemungkinan besar cara hidup Suku Karen di desa ini berbeda dari suku-suku yang menutup diri dari orang asing, ya. Menurut guide kami lagi, Suku Karen pun sudah mulai menggunakan ponsel untuk menghubungi keluarga mereka yang berada di Myanmar.

Awalnya, saya ragu untuk mengunggah foto-foto jepretan saya di sana. Tetapi, setelah saya pikir-pikir, akhirnya foto-foto itu pun saya pajang di sini. Kenapa? Karena desa mereka adalah objek wisata dan mereka mendapatkan penghasilan dari tiket-tiket masuk yang terjual. Selain itu, mungkin banyak orang yang belum tahu dan kepengin tahu tentang mereka. :)

4 comments:

fanny fristhika nila said...

lg nyari info ttg wisata di chiang rai dan chiang mai mba... :) dan g sengaja mampir kesin... tx ya... dec saya mw kesana... rencana 3 mlm di chiang rai, 3 mlm di chiang mai... tujuan sih emg mw leyeh2 aja..ga dikejar2 wktu... dan emg mw explore 2 kota itu doang :)

Richard Cong said...

wah ini artikel berguna banget bagi saya,, cara dari bangkok ke chiangrai gimana ya ?
terus sampai chiangrai ketempat wisatanya gimana ya ?
mohon bantuannyanya ya karna saya berangkat sendiri tanggal 23 nov 2015 . terimakasih
ohya email saya selvighou2107@gmail.com

Richard Cong said...

Turnya pesan lewat apa ya mbak ?

Unknown said...

Hi kak. Kalau masih simpan kontek boleh di share 1 day tour to chiang rai from chiang mai pakai tour apa? Thanks